Monday, September 19, 2011

LAGU SERDADU

Oleh: W.S. Rendra

Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
Wahai, tanah yang baik untuk mati
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukilah ia bagi puteraku di rumah

(Siasat No. 630 Th. 13, Nopember 1959)

dari :http://pecintapuisi.wordpress.com/category/ws-rendra/

SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU

(Untuk puteraku, Isaias Sadewa)
Oleh: W.S. Rendra

Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.
Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya.
Hatinya damai,
Di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
Karena ia telah lunas
Menjalani kewjiban dan kewajarannya.

Setelah ia wafat
Apakah petani-petani akan tetap menderita,
Dan para wanita kampung
Tetap membanjiri rumah pelacuran di kota?
Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.
Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya
Ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka.
Saat itu ia mendengar
Nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.

Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa.
Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan.
Di saat badan berlumur darah,
Jiwa duduk di atas teratai.

Ketika ibu-ibu meratap
Dan mengurap rambut mereka dengan debu,
Roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala
Untuk menanam benih
Agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas
Dari zaman ke zaman

(Potret Pembangunan dalam Puisi, Jakarta, 2 Sptember 1977)

Thursday, August 25, 2011

SAJAK MATA-MATA Oleh: W.S. Rendra

Ada suara bising di bawah tanah.
Ada suara gaduh di atas tanah.
Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah.
Ada tangis tak menentu di tengah sawah.
Dan, lho, ini di belakang saya
ada tentara marah-marah.

Apaa saja yang terjadi? Aku tak tahu.

Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar.
Aku melihat isyarat-isyarat.
Semua tidak jelas maknanya.
Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara,
menggangu pemandanganku.

Apa saja yang terjadi? Aku tak tahu.

Pendengaran dan penglihatan
menyesakkan perasaan,
membuat keresahan -
Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi
terjadi tanpa kutahu telah terjadi.
Aku tak tahu. Kamu tak tahu.
Tak ada yang tahu.

Betapa kita akan tahu,
kalau koran-koran ditekan sensor,
dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol.
Koran-koran adalah penerusan mata kita.
Kini sudah diganti mata yang resmi.
Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam.
Kita hanya diberi gambara model keadaan
yang sudah dijahit oleh penjahit resmi.

Mata rakyat sudah dicabut.
Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.
Mata pemerintah juga diancam bencana.
Mata pemerintah memakai kacamata hitam.
Terasing di belakang meja kekuasaan.
Mata pemerintah yang sejati
sudah diganti mata-mata.

Barisan mata-mata mahal biayanya.
Banyak makannya.
Sukar diaturnya.
Sedangkan laporannya
mirp pandangan mata kuda kereta
yang dibatasi tudung mata.

Dalam pandangan yang kabur,
semua orang marah-marah.
Rakyat marah, pemerinta marah,
semua marah lantara tidak punya mata.
Semua mata sudah disabotir.
Mata yangbebas beredar hanyalah mata-mata.

KENTUT (KENT)





“Di negeri ini kebenaran dan kebetulan tipis bedanya…”

Patiwa, salah satu kandidat Bupati di Kabupaten Kuncup Mekar, ia harus menjalani operasi medis akibat Dada kanannya tertembak saat berkampanye. Pasca operasi, Patiwa tetap harus menjalani perawatan serius di Rumah Sakit, karena dia harus menunggu hingga keluarnya KENTUT.

KENTUT yang semula dianggap remeh, seketika menjadi persoalan penting dan melibatkan banyak pihak. Sementara hari pemilihan kursi Bupati tinggal sedikit waktu. Kepanikan menimbulkan konflik besar antara pihak Rumah Sakit dengan Tim Sukses Patiwa yang dipimpin perempuan cerdas nan jelita bernama Irma. Situasi ini dimanfaatkan oleh kandidat lawan bernama Jasmera yang selalu tampil berapi-api untuk mendapatkan simpati masyarakat. Jasmera bersama Delarosa penyanyi dangdut yang fenomenal sebagai pasangan Cawabup, selalu meneriakkan slogan anti kemunafikan dan memiliki program- program kampanye kontroversial serta cenderung nyeleneh. Untuk memperlambat keluarnya KENTUT Patiwa, maka Jasmera meminta bantuan paranormal, dengan harapan agar Patiwa dinyatakan berhalangan tetap, hingga tidak dapat mengikuti putaran kedua.

Rumah Sakit berubah suasananya. Dokter Kepala, Satpam, dan seluruh karyawan Rumah Sakit semakin kelabakan dengan munculnya para pemburu berita dan beragam kelompok Agama . Mereka berkumpul untuk berdoa bagi kesehatan Patiwa, dengan seremoni yang berbeda satu sama lainnya. Situasi Rumah Sakit tidak lagi nyaman, karna mendadak berubah menjadi ruang politik. Menjadi ruang harapan bagi kepentingan banyak orang. Akhirnya KENTUT menjadi idola dari semua peristiwa yang terjadi

“Tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia”

from : http://www.21cineplex.com/kentut-kent,movie,2552.htm

ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)




Sejak lulus S1, hampir 2 tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun selalu gagal tetapi Muluk tidak pernah berputus asa


Pertemuan dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang pekerjaan bagi Muluk. Komet membawa Muluk ke markasnya, lalu memperkenalkan kepada bosnya bernama Jarot. Muluk kaget karena di markas itu berkumpul anak-anak seusia Komet yang pekerjannya adalah mencopet

Akal Muluk berputar dan melihat peluang yang ia tawarkan kepada Jarot. Ia meyakinkan Jarot bahwa ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil mencopet, termasuk biaya mendidik mereka

“Usaha yang dikelola Muluk berbuah, namun di hati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mau merubah profesi mereka. DIbantu dua rekannya yang juga sarjana, Muluk membagi tugas mereka untuk mengajar agama, budi pekerti dan kewarganegaraan

Berhasilkah mereka mendidik anaka-anak tersebut?

APa yang terjadi jika orang tua Muluk mengetahui bahwa gaji anaknya dari hasil mencopet?

Wednesday, August 24, 2011

Menuju Sebuah Keyakinan yang Hakiki

Keberagaman dan toleransi merupakan dua hal yang saling terkait, terutama jika menyangkut masalah keagamaan dan suku bangsa. Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan berbagai macam etnis dan kebudayaan, memiliki banyak kisah perihal toleransi yang menarik untuk diangkat dalam tayangan layar lebar. Hanung Bramantyo sebagai seorang sutradara kawakan tergerak untuk dapat menghadirkan kisah dengan latar belakang perbedaan ini kepada masyarakat Indonesia. Untuk itu Mahaka Pictures dan Dapur Film akan, meluncurkan film tersebut pada 7 April 2011 di bioskop-bioskop Indonesia.

Film ke 14 Hanung Bramantyo ini mengisahkan tentang konflik keluarga dan pertemanan yang terjadi di sebuah area dekat Pasar Baru, dimana terdapat Masjid, Gereja dan Klenteng yang letaknya tidak berjauhan, dan para penganutnya memiliki hubungan satu sama lain.

Dikisahkan bahwa terdapat 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun memiliki restauran masakan Cina yang tidak halal, Keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan soleha, Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan dengan Surya, pemuda yang belum pernah menikah. Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannya dengan masalah perbedaan pandangan, status, agama dan suku, akan dipaparkan secara menarik dalam film berdurasi 100 menit.

Wednesday, July 6, 2011

Komidi Putar

“Pak, nanti berhenti di tempak es krim yaa..” bujukku tiap sore hari, sambil memeluk badan bapak erat dari belakang dimana bapak selalu memenuhi permintaanku untuk jalan-jalan sore sehabis beliau pulang berdagang dengan motor kesayangannya GL Pro, waktu itu tak pernah ku fikirkan kalau beliau pastilah sangat letih karena dari sebelum subuh sudah berangkat untuk menjemput rejeki.

“iya, nanti berhentinya di dekat pasar malam yang ada komidi putarnya” jawab bapak dan aku mengangguk walau tak mungkin terlihat bapak, yang penting bagiku es krimnya, es krim rasa kacang hijau dan coklat. Hanya 2 yang boleh aku beli tidak boleh lebih, kalau aku mau rasa duren aku harus merelakan salah satu rasa es krim.

Waktu itu hari sabtu, sambil menikmati es krim yang ku pilih ku lihat pasar malam itu sudah mulai ramai dan sebagian orang mengantri tiket agar anaknya dapat memainkan beberapa permainan disana, bapak menggandeng tanganku untuk ikut dalam antrian komidi putar, “ Akhirnya tinggal 2 keluarga di depan kita” kata bapak. Aku menoleh pada antrian di depanku dan masih saja perhatianku pada komidi putar yang didalamnya ada kuda, kapal, mobil, perahu dan beberapa gambar binatang dimana nanti akan aku menaiki salah satunya.

“Apa mereka itu satu keluarga? ” tanyaku

“Bapak rasa begitu, nduk”

“Wow! Keluarga besar dengan 8 orang anak”

“Tidak mudah membawa begitu banyak anak ke dalam pasar mala mini bersama-sama” kami memandang bersamaan pada antrian depan kami, ramai sekali celoteh anak-anak mereka. “Aku tak sabar mau naik yg kuda itu”, “aku mau yang harimau itu kak”, “aku yang mobil” celoteh mereka bersahut-sahutan.

“ Apa kalian senang anak-anak? berterimakasih lah pada ibu kalian karena ini idenya” ujar bapak anak-anak tersebut kepada anak-anaknya.

“ Bapak kalianlah yang patut di beri ucapan terimakasih, karena harus bekerja extra mencari uang untuk kalian dan kita bisa pergi bersama ke pasar malam ini.” Jawab sang ibu

“ Terima kasih Bapak dan Ibu, hari ini benar-benar menyenangkan” kata mereka bersemangat.

“ Kau memang bapak yang baik” bisik ibu tersebut, “ sayang, kau istri yang cantik dan ibu yang baik” pujinya.

Masih dengan suasana yang riuh gembira di depanku, gembira sekali mereka seolah-olah baru pertama kalinya mereka menginginkan permainan ini, Bapak ku ada di belakang antrian orang tua mereka “aku akan menceritakan ini waktu nanti aku pulang kerumah pada teman-temanku” begitu yang ku dengar dari salah satu anak laki-laki yang badannya sedikit lebih besar kepada adiknya.

“ Semuanya Rp. 4000 pak” penjaga tiket menyebutkan nilai yang harus dibayar.

“ Berapa semuanya?!” jawab sang bapak terkejut.

“ Harga tiket per anak Rp. 500 pak” penjaga tiket menjelaskan

“ Saya kira Rp. 3000 cukup untuk membeli tiket dan es krim untuk mereka pak?” bisik sang ibu kepada suaminya dengan nada sedih. “Bagaimana mengatakan kepada mereka kalau uang kita tidak cukup” ibu anak-anak itu menatap suaminya yang masih terdiam memandang anak-anaknya.

“Permisi, Pak! Sepertinya uang Bapak terjatuh.” Bapakku mengambil uang yang ada ditanah dan mengedipakan mata kepada bapak anak-anak itu sambil mengepalkan tangan ke bapak itu.

“ Terima kasih, terima kasih banyak, Pak! Uang ini benar-benar sangat berarti bagi saya dan keluarga saya.” Ujar Bapak tersebut dengan senyum yang sumringah senang.

“Ayo anak-anak, kita masuk dan pilih yang kalian mau” ajak Bapak pada anak-anaknya seraya tersenyum pada Bapakku, kami pun pergi ke parkiran motor untuk kembali pulang.

Kami sendiri tidak lebih kaya dari mereka waktu itu, dan “ Maaf ya nduk, Bapak janji akan mengajakmu lain kali, Bapak

harap kamu mau menunggu.”

“ Iya Pak, aku memang tidak jadi naek komidi putar, tapi hari ini aku melihat Bapak yang hebat!.”

**********

Pria itu tahu masalah yang di hadapinya. Dia tak ingin minta bantuan, tetapi yang pasti dia sangat menghargai bantuan tersebut dalam situasi saat itu. Dia menatap mata Bapakku, menyambut tangan Bapak dengan kedua tangannya dan menggenggam erat lembaran uang tersebut dengan bibir bergetar dan air mata membasahi pipinya, dia menjawab,

“ Terima kasih, terima kasih banyak, Pak! Uang ini benar-benar sangat berarti bagi saya dan keluarga saya.”

Teruntuk para Bapak di seantero jagad ini! Special untuk Bapak yang sedang melewati masa di hari tua, I L O V E YOU (putrie)

Sumber : Catatan seorang kawan .. Tri setyawati

http://y0un13.blogspot.com/2011/04/komidi-putar.html

http://nikenike.wordpress.com/about/