Thursday, August 20, 2009

Ramadhan

Ada BULAN DIATAS KUBURAN
HB Yassin sang Kritikus Sastra Indonesia (yang belum ada penggantinya hingga kini), pernah dibikin pusing oleh sebuah puisi. Puisi itu hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama adalah judul, dan baris kedua adalah isi.

Puisi itu sbb:

MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan

Demikian cerita dari seorang teman yang adalah pengamat sastra pula, diawal tahun delapan puluhan. Konon kabarnya sajak ini sempat dibawa berhari-hari oleh Yassin sebagai topik diskusi, tanpa ada solusi interpretasi, hingga kemudiannya terlupakan begitu saja.

Sajak itu ditulis oleh Toto Sudarto Bahtiar, seorang penyair yang tidak begitu produktif, namun cukup dikenal di jagad sastra Indonesia ini. Malahan NH Dini sebagai seorang penulis novel ternama dizamannya, sering membuka novelnya dengan bait-bait puisi karya Toto S. Bahtiar ini.

Di suatu saat yang lain, aku menemukan pula sebuah lukisan yang berjudul mirip: BULAN DIATAS KUBURAN. Suatu kebetulankah?. Itupun berlalu begitu saja pula ketika lukisan itu kupajang, selain sekeping pemikiran akan kemungkinan adanya hubungan antara puisi Toto Sudarto dengan lukisan itu.

Makanya, ketika aku berjumpa dengan penulis Toto, yang akrab kusapa dengan “Bang To” (orang lain memanggilnya Kang Toto). Kamipun berdiskusi panjang. Akupun bertanya tentang puisinya yang “hanya” dua baris itu, tentang interpretasi yang terkandung disana, tentang bagaimana inspirasinya, dsb, dsb. Jawaban Bang To terdengar ringan, namun mengejutkan:

­ - Bang To lupa tuh………. Apa memang bang To pernah menulis itu ya?.
Akupun menyampaikan cerita temanku tadi. Lalu akupun kemudian jadi semakin kaget ketika bang To menukas:
­ - Masa sih? Yassin sampai begitu?.

Juga semakin penuh mysteri ketika aku bertanya pula tentang NH Dini yang selalu menyelipkan puisinya bang To ini disetiap novelnya.
-­ He, he……. begitu? Bang To belum pernah baca.
­ - Sepertinya NH Dini akrab sekali dengan bang To.
­ - Tidak…..tidak…… bang To belum kenal Dini……..
( ………….Sekarang tinggal hanya NH Dini seorang yang bisa mengungkap mysteri ini. )

Memang bang To ini penuh mysteri. Orangnya sederhana, dan terkadang kocak. Wajahnya asli Indonesia, menguasai beberapa bahasa asing dan bahasa daerah, termasuk bahasa Minang dengan lancar, meskipun dari lahirnya selalu bermukim di Tanah Pasundan. Oleh karena itu pula beliau lebih sering menjadi penterjemah dari karya-karya asing.

Pernah sekali ketika kami berdua saling berbincang, seseorang datang mendekat sembari menjabat tangannya. Keduanyapun tampak cepat akrab, walaupun kenyataannya itu adalah perkenalan pertama mereka.

-­ Rasanya sebelum ini saya sering lihat bapak,….. tapi dimana ya?
Orang itu bertanya serius. Bang To dengan senyum khasnya menjawab.
-­ Oh, anda sering nonton film Indonesia barangkali?
­- Ya,…..kadang-kadang……
-­ Nah…. sering lihat Roy Marten ……..?
Maka meledaklah tawa kami hingga berderai dengan jawaban yang terkesan konyol, tapi ngocak itu. Siapa yang tak kenal Roy Marten yang amat populer saat itu, dengan wajahnya yang indo, sedangkan bang To berwajah asli Melayu Sunda, dan kulit sawo yang lebih mengarah ke gelap. Apalagi setahuku bang To belum pernah main film……..

Maka ketika dua hari menjelang lebaran 1 Syawal 1428 H (Oktober 2007), ………akupun terkaget menerima SMS, berita tentang telah berpulangnya Bang To di Banjar Ciamis……… Sesaat ada petir yang menggelegar. Dan gelegar itu semakin kencang, ketika teman yang pernah bercerita diawal tahun delapan puluhan dulu, pada hari ini khusus mendatangi ku pula. Wajahnya sumringah sambil mengajukan kedua jempol:

­- Baru terkuak mysteri itu setelah lebih dua puluh tahun……… Kang Toto ternyata sudah tahu benar kapan dia akan pulang………

Akupun bergegas mencari lukisan BULAN DIATAS KUBURAN yang kukemas dengan rapi ketika aku pindah rumah bulan yang lalu. Oh,…. ternyata ada……… Bungkusannya masih rapi, dan sekarang aku ingin memajang lukisan itu kembali.

Tapi Masya Allah……. dalam bungkusan itu hanya ada piguranya saja. Lukisannya telah lenyap…… Apakah mungkin dulu orang-orang yang yang membantu mengangkut barang-barang menganggap lukisan itu tidak berarti? Dan lalu membuangnya?. Atau ada yang sengaja mencuri………?. Tidak mungkin. Bukankah aku sendiri yang membungkusnya dengan rapi?.

Memang lukisan itu hanya terdiri dari warna hitam dan kuning dalam aliran abstrak, serta usang …… tak akan pernah menarik bagi orang awam. Lalu……?. Lalu kenapa lenyap begitu saja?. Kebetulan lagi kah?. Pigura itupun sekarang kosong melompong……… Lama aku terpana. Sekali lagi mysteri itu datang mengusik. Mysteri BULAN DIATAS KUBURAN……. yang pernah tercetus dari seorang Toto Sudarto Bahtiar……….

-oOo-



A n d r e s

ADA BULAN DI AKHIR RAMADHAN
(In Memorium TOTO SUDARTO BAHTIAR Medio 007)

mereka bicara:
tentang bulan yang penuh mysteri
dan mereka juga bercerita:
tentang kuburan yang pula mysteri
lalu kau tulis:
tentang keduanya
dalam kata

tulisan itu hadir dengan perkasa
ditengah gemuruh zaman yang berlari
mengejar sunyi
diantara asap-asap kretek…..
yang membubung tinggi
lalu
buyar

pernahkah kau perduli
akan mereka yang datang
membawa setanggi ?

setanggi yang wangi
penuh mysteri
sewangi mysteri sajakmu:
“MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan”

malam ini
ada bulan diatasmu
malam ini
ada seremonial pesta wisuda
malam ini
malam bulan Ramadhan
seperti yang ada dalam sajak-mu

kau hadir
dengan sedekap yang takzim
tampil dalam toga kebesaran
yang putih bersih

maka
mysteri pun terkuak
dalam bekunya
diam-mu
yang
ka-
ku

aku pun sesaat terpana:
ketika ada senyum yang mengiring
menjawab semua tanda tanya

malam ini:
MALAM BULAN RAMADHAN
ada bulan diatas kuburan

sebuah pertanda pesta yang usai…….
ataukah
pesta ini baru dimulai?

( 007 baca: Oktober 07 )

-oOo-

No comments:

Post a Comment