Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
Saturday, November 28, 2009
Sunday, September 27, 2009
PESAN TAUHID DALAM PUISI “SATU KEKASIHKU” KARYA EMHA AINUN NADJIB (1)
Oleh Adam Troy Effendy
Puisi “Satu Kekasihku” terdapat dalam antologi yang bertajuk Cahaya Maha Cahaya. Antologi ini diterbitkan pada tahun 1996 oleh penerbit Pustaka Firdaus. Berikut ini kutipan lengkap puisi tersebut.
SATU KEKASIHKU
Mati hidup satu kekasihku
Takkan kubikin ia cemburu
Kurahasiakan dari anak isteri
Kulindungi dari politik dan kiai
Pentakwilan makna puisi ini akan penulis lakukan baris per baris dengan maksud memudahkan pemahaman atasnya. Berikut ini uraian lengkapnya.
¨ Mati hidup satu kekasihku
Penempatan kata mati mendahului kata hidup cukup menarik di sini. Tampaknya sengaja dilakukan sedemikian oleh pengarang dengan maksud khusus; agar tertangkap keterkaitannya dengan beberapa dalil berikut.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(Q.S. Al-Ankabut:64)
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (Q.S. At-Taubah: 38)
Dunia itu ladang akhirat. Barang siapa menanam kebaikan akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Barang siapa menanam keburukan akan mendapat penyesalan. (hadis)
Orang mukmin beramal untuk dunia dan akhiratnya. Untuk dunianya, ia bekerja seperlunya saja. Ia mengambil sekadar untuk bekal perjalanan saja. Ia tidak mau mengambil banyak-banyak. Adapun orang bodoh, cita-citanya hanya untuk dunia. Tetapi orang arif bercita-cita untuk akhirat, kemudian untuk Al-Maula Azza wa Jalla. (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Sang “aku” dalam puisi di sini tampaknya mengingatkan bahwa sesungguhnya kita hidup di dunia ini dalam keadaan “mati” karena kehidupan dunia ini statusnya sekadar ladang yang hanya bisa dipanen hasilnya di akhirat. Terlebih, jelas-jelas dikatakan Tuhan bahwa kehidupan di dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya.
Di sini juga tersirat sindiran bagi setiap muslim yang tidak menyadari bahwa ia telah berbuat bodoh. Mengapa bodoh? Karena kebanyakan muslim ketika berhadapan dengan pemahaman agama tingkat lanjut yang dirasanya berat, segera hatinya berbisik dalam bentuk premis umum,”Ah, aku sih (beragama) yang biasa-biasa sajalah.” Ia sama sekali tidak menyadari bahwa premis khusus dari pernyataan hatinya itu bermakna,”Potensi dan usahaku yang luar biasa adalah untuk dunia (bekerja keras menumpuk tabungan agar punya cukup modal dan kelak layak menikah dengan orang baik-baik, bermartabat, kalau bisa juga kaya. Yang berarti juga mengangkat derajat keluarga besar. Lalu mempunyai anak-anak yang pintar dan saleh. Memiliki rumah dan kendaraan yang cukup bisa dibanggakan. Lalu menjadi kakek-nenek yang bahagia; mengisi hari tua dengan beribadah dan aktif dalam pertemuan arisan khusus haji atau menjadi yang terkemuka di acara pengajian bulanan. Dengan begini, mudah-mudahan masuk surga.)
Adapun frasa satu kekasihku, jika dihubungkan dengan baris ketiga yang berbunyi kurahasiakan dari anak istri serta-merta mengarahkan pembaca pada Tuhan. Pembaca tidak akan menuduh sang “aku” dalam puisi ini sedang menceritakan kekasih gelapnya karena puisi ini terangkum dalam antologi yang bernuansa religius. Sang “aku” justru sedang menegaskan bahwa yang menjadi buluh perindu; yang menguasai takhta cintanya adalah Tuhan Sang Terkasih.
¨ Takkan kubikin ia cemburu
Satu hal yang jarang diketahui orang adalah bahwa Allah Maha Pecemburu. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam kemuliaan dan paling diutamakan Allah. Kasih Allah lebih tercurah pada ciptaan yang satu ini. Manusia adalah makhluk kesayangan-Nya. Bahkan, Allah Swt. menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik dan Nabi Muhammad Saw. pun bersabda bahwa manusia diciptakan atas gambaran-Nya. Pengistimewaan manusia juga terbukti dalam tugas yang diembannya sebagai khalifah di muka bumi dan turunnya perintah sujud sekalian jin dan malaikat kepada Nabi Adam.
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku (Q.S. Ṯāhā:41)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. At-Tīn:4)
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (Q.S. Al-Isrā: 70)
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Q.S. Al-Hijr: 29)
Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa-Nya. (hadis)
Allah Swt. menciptakan Adam atas Rupa-Nya yang Maha Pengasih.(hadis)
Sang “aku” dalam puisi tidak ingin tergolong ke dalam manusia yang tidak tahu berterima kasih sehingga Allah kecewa terhadapnya. Seperti kecewanya seseorang yang memberikan bingkisan hadiah kepada anak kecil. Anak kecil itu begitu antusias sampai berlari-lari menghampiri. Ia lalu meraih bingkisan itu dan berpaling dengan ucapan terima kasih yang samar. Sejurus kemudian, anak itu asyik membuka bingkisan dan telah lupa sama sekali dengan sang pemberi hadiah.
Allah murka jika manusia lupa dan berpaling kepada selain-Nya. Apalagi berpaling justru kepada karunia yang Allah berikan padanya. Kisah Qarun adalah contoh yang paling mencolok untuk hal ini. Allah mengaruniakan kecerdasan akal pada Qarun hingga ia menjadi ahli kimia yang bisa mengubah logam biasa menjadi emas. Lalu Qarun berpaling dari Allah dengan mengatakan sesungguhnya segala kekayaannya itu berkat kecerdasan akalnya. Lalu Allah murka. Lalu allah membenamkan Qarun beserta seluruh kekayaannya ke dasar bumi. Inilah kisah Alquran yang mendasari frasa harta karun di kemudian hari.
Allah murka kepada manusia yang dikaruniai kecantikan, ketampanan, dan kemolekan tubuh yang dengan itu mereka mencari nafkah. Lalu mereka berlindung dalam dalih hak asasi, tuntutan profesi, dan ekspresi seni. Lalu mereka bertuhankan hak asasi, profesi, dan seni. Allah murka kepada ahli hukum yang memperkaya diri dengan memanfaatkan celah hukum yang diketahuinya. Lalu ia menjadi pembela manusia-manusia durhaka yang kaya. Lalu ia bertuhankan uang. Allah murka kepada manusia yang diberi kelihaian meraih simpati manusia sehingga ia memanfaatkannya untuk meraih ambisi pribadi; menjadi penjilat bagi penguasa hanya demi kedudukan lebih tinggi di mata manusia. Lalu ia bertuhankan ambisinya. Sang “aku” dalam puisi tidak mau menjadi manusia seperti itu.
Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah (Q.S. Al-Baqarah: 90)
Ya Rabb, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari-Mu (hadis)
Sesungguhnya Dia amat Pencemburu. Dia tidak suka seandainya di dalam hatimu ada selain Dia. Dan barang siapa menghendaki untuk menjadi kaya di dunia dan akhirat, hendaklah ia takut kepada Allah Swt., nukan kepada selain Dia. (syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Waspadalah, jangan teperdaya terhadap karunia-Ku dan jangan putus harapan karena uji-coba-Ku, dan jangan jinak bermanja dengan selain-Ku.
Lalu Aku pun bersumpah demi karunia-karunia-Ku, selama engkau menjarak keluar dari-Ku untuk minum, melainkan akan Kusia-siakan engkau. Jangan diharapkan engkau akan dapat kembali berdampingan dengan-Ku dan tidak pula engkau akan berhasil mendapatkan minuman yang engkau harap-harapkan. Maka sesungguhnya engkau telah sesat jalan dari-Ku dan engkau telah melupakan bahwa Aku-lah sebenarnya minuman Yang Maha Tunggal dan rumah tempat berlindungmu yang tunggal. (Kitab Melihat Allah {Ru`yatullah} Imam Hasan An-Nafri)
Puisi “Satu Kekasihku” terdapat dalam antologi yang bertajuk Cahaya Maha Cahaya. Antologi ini diterbitkan pada tahun 1996 oleh penerbit Pustaka Firdaus. Berikut ini kutipan lengkap puisi tersebut.
SATU KEKASIHKU
Mati hidup satu kekasihku
Takkan kubikin ia cemburu
Kurahasiakan dari anak isteri
Kulindungi dari politik dan kiai
Pentakwilan makna puisi ini akan penulis lakukan baris per baris dengan maksud memudahkan pemahaman atasnya. Berikut ini uraian lengkapnya.
¨ Mati hidup satu kekasihku
Penempatan kata mati mendahului kata hidup cukup menarik di sini. Tampaknya sengaja dilakukan sedemikian oleh pengarang dengan maksud khusus; agar tertangkap keterkaitannya dengan beberapa dalil berikut.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(Q.S. Al-Ankabut:64)
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (Q.S. At-Taubah: 38)
Dunia itu ladang akhirat. Barang siapa menanam kebaikan akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Barang siapa menanam keburukan akan mendapat penyesalan. (hadis)
Orang mukmin beramal untuk dunia dan akhiratnya. Untuk dunianya, ia bekerja seperlunya saja. Ia mengambil sekadar untuk bekal perjalanan saja. Ia tidak mau mengambil banyak-banyak. Adapun orang bodoh, cita-citanya hanya untuk dunia. Tetapi orang arif bercita-cita untuk akhirat, kemudian untuk Al-Maula Azza wa Jalla. (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Sang “aku” dalam puisi di sini tampaknya mengingatkan bahwa sesungguhnya kita hidup di dunia ini dalam keadaan “mati” karena kehidupan dunia ini statusnya sekadar ladang yang hanya bisa dipanen hasilnya di akhirat. Terlebih, jelas-jelas dikatakan Tuhan bahwa kehidupan di dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya.
Di sini juga tersirat sindiran bagi setiap muslim yang tidak menyadari bahwa ia telah berbuat bodoh. Mengapa bodoh? Karena kebanyakan muslim ketika berhadapan dengan pemahaman agama tingkat lanjut yang dirasanya berat, segera hatinya berbisik dalam bentuk premis umum,”Ah, aku sih (beragama) yang biasa-biasa sajalah.” Ia sama sekali tidak menyadari bahwa premis khusus dari pernyataan hatinya itu bermakna,”Potensi dan usahaku yang luar biasa adalah untuk dunia (bekerja keras menumpuk tabungan agar punya cukup modal dan kelak layak menikah dengan orang baik-baik, bermartabat, kalau bisa juga kaya. Yang berarti juga mengangkat derajat keluarga besar. Lalu mempunyai anak-anak yang pintar dan saleh. Memiliki rumah dan kendaraan yang cukup bisa dibanggakan. Lalu menjadi kakek-nenek yang bahagia; mengisi hari tua dengan beribadah dan aktif dalam pertemuan arisan khusus haji atau menjadi yang terkemuka di acara pengajian bulanan. Dengan begini, mudah-mudahan masuk surga.)
Adapun frasa satu kekasihku, jika dihubungkan dengan baris ketiga yang berbunyi kurahasiakan dari anak istri serta-merta mengarahkan pembaca pada Tuhan. Pembaca tidak akan menuduh sang “aku” dalam puisi ini sedang menceritakan kekasih gelapnya karena puisi ini terangkum dalam antologi yang bernuansa religius. Sang “aku” justru sedang menegaskan bahwa yang menjadi buluh perindu; yang menguasai takhta cintanya adalah Tuhan Sang Terkasih.
¨ Takkan kubikin ia cemburu
Satu hal yang jarang diketahui orang adalah bahwa Allah Maha Pecemburu. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam kemuliaan dan paling diutamakan Allah. Kasih Allah lebih tercurah pada ciptaan yang satu ini. Manusia adalah makhluk kesayangan-Nya. Bahkan, Allah Swt. menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik dan Nabi Muhammad Saw. pun bersabda bahwa manusia diciptakan atas gambaran-Nya. Pengistimewaan manusia juga terbukti dalam tugas yang diembannya sebagai khalifah di muka bumi dan turunnya perintah sujud sekalian jin dan malaikat kepada Nabi Adam.
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku (Q.S. Ṯāhā:41)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. At-Tīn:4)
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (Q.S. Al-Isrā: 70)
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Q.S. Al-Hijr: 29)
Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa-Nya. (hadis)
Allah Swt. menciptakan Adam atas Rupa-Nya yang Maha Pengasih.(hadis)
Sang “aku” dalam puisi tidak ingin tergolong ke dalam manusia yang tidak tahu berterima kasih sehingga Allah kecewa terhadapnya. Seperti kecewanya seseorang yang memberikan bingkisan hadiah kepada anak kecil. Anak kecil itu begitu antusias sampai berlari-lari menghampiri. Ia lalu meraih bingkisan itu dan berpaling dengan ucapan terima kasih yang samar. Sejurus kemudian, anak itu asyik membuka bingkisan dan telah lupa sama sekali dengan sang pemberi hadiah.
Allah murka jika manusia lupa dan berpaling kepada selain-Nya. Apalagi berpaling justru kepada karunia yang Allah berikan padanya. Kisah Qarun adalah contoh yang paling mencolok untuk hal ini. Allah mengaruniakan kecerdasan akal pada Qarun hingga ia menjadi ahli kimia yang bisa mengubah logam biasa menjadi emas. Lalu Qarun berpaling dari Allah dengan mengatakan sesungguhnya segala kekayaannya itu berkat kecerdasan akalnya. Lalu Allah murka. Lalu allah membenamkan Qarun beserta seluruh kekayaannya ke dasar bumi. Inilah kisah Alquran yang mendasari frasa harta karun di kemudian hari.
Allah murka kepada manusia yang dikaruniai kecantikan, ketampanan, dan kemolekan tubuh yang dengan itu mereka mencari nafkah. Lalu mereka berlindung dalam dalih hak asasi, tuntutan profesi, dan ekspresi seni. Lalu mereka bertuhankan hak asasi, profesi, dan seni. Allah murka kepada ahli hukum yang memperkaya diri dengan memanfaatkan celah hukum yang diketahuinya. Lalu ia menjadi pembela manusia-manusia durhaka yang kaya. Lalu ia bertuhankan uang. Allah murka kepada manusia yang diberi kelihaian meraih simpati manusia sehingga ia memanfaatkannya untuk meraih ambisi pribadi; menjadi penjilat bagi penguasa hanya demi kedudukan lebih tinggi di mata manusia. Lalu ia bertuhankan ambisinya. Sang “aku” dalam puisi tidak mau menjadi manusia seperti itu.
Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah (Q.S. Al-Baqarah: 90)
Ya Rabb, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari-Mu (hadis)
Sesungguhnya Dia amat Pencemburu. Dia tidak suka seandainya di dalam hatimu ada selain Dia. Dan barang siapa menghendaki untuk menjadi kaya di dunia dan akhirat, hendaklah ia takut kepada Allah Swt., nukan kepada selain Dia. (syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Waspadalah, jangan teperdaya terhadap karunia-Ku dan jangan putus harapan karena uji-coba-Ku, dan jangan jinak bermanja dengan selain-Ku.
Lalu Aku pun bersumpah demi karunia-karunia-Ku, selama engkau menjarak keluar dari-Ku untuk minum, melainkan akan Kusia-siakan engkau. Jangan diharapkan engkau akan dapat kembali berdampingan dengan-Ku dan tidak pula engkau akan berhasil mendapatkan minuman yang engkau harap-harapkan. Maka sesungguhnya engkau telah sesat jalan dari-Ku dan engkau telah melupakan bahwa Aku-lah sebenarnya minuman Yang Maha Tunggal dan rumah tempat berlindungmu yang tunggal. (Kitab Melihat Allah {Ru`yatullah} Imam Hasan An-Nafri)
Thursday, August 20, 2009
Ramadhan
Ada BULAN DIATAS KUBURAN
HB Yassin sang Kritikus Sastra Indonesia (yang belum ada penggantinya hingga kini), pernah dibikin pusing oleh sebuah puisi. Puisi itu hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama adalah judul, dan baris kedua adalah isi.
Puisi itu sbb:
MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan
Demikian cerita dari seorang teman yang adalah pengamat sastra pula, diawal tahun delapan puluhan. Konon kabarnya sajak ini sempat dibawa berhari-hari oleh Yassin sebagai topik diskusi, tanpa ada solusi interpretasi, hingga kemudiannya terlupakan begitu saja.
Sajak itu ditulis oleh Toto Sudarto Bahtiar, seorang penyair yang tidak begitu produktif, namun cukup dikenal di jagad sastra Indonesia ini. Malahan NH Dini sebagai seorang penulis novel ternama dizamannya, sering membuka novelnya dengan bait-bait puisi karya Toto S. Bahtiar ini.
Di suatu saat yang lain, aku menemukan pula sebuah lukisan yang berjudul mirip: BULAN DIATAS KUBURAN. Suatu kebetulankah?. Itupun berlalu begitu saja pula ketika lukisan itu kupajang, selain sekeping pemikiran akan kemungkinan adanya hubungan antara puisi Toto Sudarto dengan lukisan itu.
Makanya, ketika aku berjumpa dengan penulis Toto, yang akrab kusapa dengan “Bang To” (orang lain memanggilnya Kang Toto). Kamipun berdiskusi panjang. Akupun bertanya tentang puisinya yang “hanya” dua baris itu, tentang interpretasi yang terkandung disana, tentang bagaimana inspirasinya, dsb, dsb. Jawaban Bang To terdengar ringan, namun mengejutkan:
- Bang To lupa tuh………. Apa memang bang To pernah menulis itu ya?.
Akupun menyampaikan cerita temanku tadi. Lalu akupun kemudian jadi semakin kaget ketika bang To menukas:
- Masa sih? Yassin sampai begitu?.
Juga semakin penuh mysteri ketika aku bertanya pula tentang NH Dini yang selalu menyelipkan puisinya bang To ini disetiap novelnya.
- He, he……. begitu? Bang To belum pernah baca.
- Sepertinya NH Dini akrab sekali dengan bang To.
- Tidak…..tidak…… bang To belum kenal Dini……..
( ………….Sekarang tinggal hanya NH Dini seorang yang bisa mengungkap mysteri ini. )
Memang bang To ini penuh mysteri. Orangnya sederhana, dan terkadang kocak. Wajahnya asli Indonesia, menguasai beberapa bahasa asing dan bahasa daerah, termasuk bahasa Minang dengan lancar, meskipun dari lahirnya selalu bermukim di Tanah Pasundan. Oleh karena itu pula beliau lebih sering menjadi penterjemah dari karya-karya asing.
Pernah sekali ketika kami berdua saling berbincang, seseorang datang mendekat sembari menjabat tangannya. Keduanyapun tampak cepat akrab, walaupun kenyataannya itu adalah perkenalan pertama mereka.
- Rasanya sebelum ini saya sering lihat bapak,….. tapi dimana ya?
Orang itu bertanya serius. Bang To dengan senyum khasnya menjawab.
- Oh, anda sering nonton film Indonesia barangkali?
- Ya,…..kadang-kadang……
- Nah…. sering lihat Roy Marten ……..?
Maka meledaklah tawa kami hingga berderai dengan jawaban yang terkesan konyol, tapi ngocak itu. Siapa yang tak kenal Roy Marten yang amat populer saat itu, dengan wajahnya yang indo, sedangkan bang To berwajah asli Melayu Sunda, dan kulit sawo yang lebih mengarah ke gelap. Apalagi setahuku bang To belum pernah main film……..
Maka ketika dua hari menjelang lebaran 1 Syawal 1428 H (Oktober 2007), ………akupun terkaget menerima SMS, berita tentang telah berpulangnya Bang To di Banjar Ciamis……… Sesaat ada petir yang menggelegar. Dan gelegar itu semakin kencang, ketika teman yang pernah bercerita diawal tahun delapan puluhan dulu, pada hari ini khusus mendatangi ku pula. Wajahnya sumringah sambil mengajukan kedua jempol:
- Baru terkuak mysteri itu setelah lebih dua puluh tahun……… Kang Toto ternyata sudah tahu benar kapan dia akan pulang………
Akupun bergegas mencari lukisan BULAN DIATAS KUBURAN yang kukemas dengan rapi ketika aku pindah rumah bulan yang lalu. Oh,…. ternyata ada……… Bungkusannya masih rapi, dan sekarang aku ingin memajang lukisan itu kembali.
Tapi Masya Allah……. dalam bungkusan itu hanya ada piguranya saja. Lukisannya telah lenyap…… Apakah mungkin dulu orang-orang yang yang membantu mengangkut barang-barang menganggap lukisan itu tidak berarti? Dan lalu membuangnya?. Atau ada yang sengaja mencuri………?. Tidak mungkin. Bukankah aku sendiri yang membungkusnya dengan rapi?.
Memang lukisan itu hanya terdiri dari warna hitam dan kuning dalam aliran abstrak, serta usang …… tak akan pernah menarik bagi orang awam. Lalu……?. Lalu kenapa lenyap begitu saja?. Kebetulan lagi kah?. Pigura itupun sekarang kosong melompong……… Lama aku terpana. Sekali lagi mysteri itu datang mengusik. Mysteri BULAN DIATAS KUBURAN……. yang pernah tercetus dari seorang Toto Sudarto Bahtiar……….
-oOo-
A n d r e s
ADA BULAN DI AKHIR RAMADHAN
(In Memorium TOTO SUDARTO BAHTIAR Medio 007)
mereka bicara:
tentang bulan yang penuh mysteri
dan mereka juga bercerita:
tentang kuburan yang pula mysteri
lalu kau tulis:
tentang keduanya
dalam kata
tulisan itu hadir dengan perkasa
ditengah gemuruh zaman yang berlari
mengejar sunyi
diantara asap-asap kretek…..
yang membubung tinggi
lalu
buyar
pernahkah kau perduli
akan mereka yang datang
membawa setanggi ?
setanggi yang wangi
penuh mysteri
sewangi mysteri sajakmu:
“MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan”
malam ini
ada bulan diatasmu
malam ini
ada seremonial pesta wisuda
malam ini
malam bulan Ramadhan
seperti yang ada dalam sajak-mu
kau hadir
dengan sedekap yang takzim
tampil dalam toga kebesaran
yang putih bersih
maka
mysteri pun terkuak
dalam bekunya
diam-mu
yang
ka-
ku
aku pun sesaat terpana:
ketika ada senyum yang mengiring
menjawab semua tanda tanya
malam ini:
MALAM BULAN RAMADHAN
ada bulan diatas kuburan
sebuah pertanda pesta yang usai…….
ataukah
pesta ini baru dimulai?
( 007 baca: Oktober 07 )
-oOo-
HB Yassin sang Kritikus Sastra Indonesia (yang belum ada penggantinya hingga kini), pernah dibikin pusing oleh sebuah puisi. Puisi itu hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama adalah judul, dan baris kedua adalah isi.
Puisi itu sbb:
MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan
Demikian cerita dari seorang teman yang adalah pengamat sastra pula, diawal tahun delapan puluhan. Konon kabarnya sajak ini sempat dibawa berhari-hari oleh Yassin sebagai topik diskusi, tanpa ada solusi interpretasi, hingga kemudiannya terlupakan begitu saja.
Sajak itu ditulis oleh Toto Sudarto Bahtiar, seorang penyair yang tidak begitu produktif, namun cukup dikenal di jagad sastra Indonesia ini. Malahan NH Dini sebagai seorang penulis novel ternama dizamannya, sering membuka novelnya dengan bait-bait puisi karya Toto S. Bahtiar ini.
Di suatu saat yang lain, aku menemukan pula sebuah lukisan yang berjudul mirip: BULAN DIATAS KUBURAN. Suatu kebetulankah?. Itupun berlalu begitu saja pula ketika lukisan itu kupajang, selain sekeping pemikiran akan kemungkinan adanya hubungan antara puisi Toto Sudarto dengan lukisan itu.
Makanya, ketika aku berjumpa dengan penulis Toto, yang akrab kusapa dengan “Bang To” (orang lain memanggilnya Kang Toto). Kamipun berdiskusi panjang. Akupun bertanya tentang puisinya yang “hanya” dua baris itu, tentang interpretasi yang terkandung disana, tentang bagaimana inspirasinya, dsb, dsb. Jawaban Bang To terdengar ringan, namun mengejutkan:
- Bang To lupa tuh………. Apa memang bang To pernah menulis itu ya?.
Akupun menyampaikan cerita temanku tadi. Lalu akupun kemudian jadi semakin kaget ketika bang To menukas:
- Masa sih? Yassin sampai begitu?.
Juga semakin penuh mysteri ketika aku bertanya pula tentang NH Dini yang selalu menyelipkan puisinya bang To ini disetiap novelnya.
- He, he……. begitu? Bang To belum pernah baca.
- Sepertinya NH Dini akrab sekali dengan bang To.
- Tidak…..tidak…… bang To belum kenal Dini……..
( ………….Sekarang tinggal hanya NH Dini seorang yang bisa mengungkap mysteri ini. )
Memang bang To ini penuh mysteri. Orangnya sederhana, dan terkadang kocak. Wajahnya asli Indonesia, menguasai beberapa bahasa asing dan bahasa daerah, termasuk bahasa Minang dengan lancar, meskipun dari lahirnya selalu bermukim di Tanah Pasundan. Oleh karena itu pula beliau lebih sering menjadi penterjemah dari karya-karya asing.
Pernah sekali ketika kami berdua saling berbincang, seseorang datang mendekat sembari menjabat tangannya. Keduanyapun tampak cepat akrab, walaupun kenyataannya itu adalah perkenalan pertama mereka.
- Rasanya sebelum ini saya sering lihat bapak,….. tapi dimana ya?
Orang itu bertanya serius. Bang To dengan senyum khasnya menjawab.
- Oh, anda sering nonton film Indonesia barangkali?
- Ya,…..kadang-kadang……
- Nah…. sering lihat Roy Marten ……..?
Maka meledaklah tawa kami hingga berderai dengan jawaban yang terkesan konyol, tapi ngocak itu. Siapa yang tak kenal Roy Marten yang amat populer saat itu, dengan wajahnya yang indo, sedangkan bang To berwajah asli Melayu Sunda, dan kulit sawo yang lebih mengarah ke gelap. Apalagi setahuku bang To belum pernah main film……..
Maka ketika dua hari menjelang lebaran 1 Syawal 1428 H (Oktober 2007), ………akupun terkaget menerima SMS, berita tentang telah berpulangnya Bang To di Banjar Ciamis……… Sesaat ada petir yang menggelegar. Dan gelegar itu semakin kencang, ketika teman yang pernah bercerita diawal tahun delapan puluhan dulu, pada hari ini khusus mendatangi ku pula. Wajahnya sumringah sambil mengajukan kedua jempol:
- Baru terkuak mysteri itu setelah lebih dua puluh tahun……… Kang Toto ternyata sudah tahu benar kapan dia akan pulang………
Akupun bergegas mencari lukisan BULAN DIATAS KUBURAN yang kukemas dengan rapi ketika aku pindah rumah bulan yang lalu. Oh,…. ternyata ada……… Bungkusannya masih rapi, dan sekarang aku ingin memajang lukisan itu kembali.
Tapi Masya Allah……. dalam bungkusan itu hanya ada piguranya saja. Lukisannya telah lenyap…… Apakah mungkin dulu orang-orang yang yang membantu mengangkut barang-barang menganggap lukisan itu tidak berarti? Dan lalu membuangnya?. Atau ada yang sengaja mencuri………?. Tidak mungkin. Bukankah aku sendiri yang membungkusnya dengan rapi?.
Memang lukisan itu hanya terdiri dari warna hitam dan kuning dalam aliran abstrak, serta usang …… tak akan pernah menarik bagi orang awam. Lalu……?. Lalu kenapa lenyap begitu saja?. Kebetulan lagi kah?. Pigura itupun sekarang kosong melompong……… Lama aku terpana. Sekali lagi mysteri itu datang mengusik. Mysteri BULAN DIATAS KUBURAN……. yang pernah tercetus dari seorang Toto Sudarto Bahtiar……….
-oOo-
A n d r e s
ADA BULAN DI AKHIR RAMADHAN
(In Memorium TOTO SUDARTO BAHTIAR Medio 007)
mereka bicara:
tentang bulan yang penuh mysteri
dan mereka juga bercerita:
tentang kuburan yang pula mysteri
lalu kau tulis:
tentang keduanya
dalam kata
tulisan itu hadir dengan perkasa
ditengah gemuruh zaman yang berlari
mengejar sunyi
diantara asap-asap kretek…..
yang membubung tinggi
lalu
buyar
pernahkah kau perduli
akan mereka yang datang
membawa setanggi ?
setanggi yang wangi
penuh mysteri
sewangi mysteri sajakmu:
“MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan”
malam ini
ada bulan diatasmu
malam ini
ada seremonial pesta wisuda
malam ini
malam bulan Ramadhan
seperti yang ada dalam sajak-mu
kau hadir
dengan sedekap yang takzim
tampil dalam toga kebesaran
yang putih bersih
maka
mysteri pun terkuak
dalam bekunya
diam-mu
yang
ka-
ku
aku pun sesaat terpana:
ketika ada senyum yang mengiring
menjawab semua tanda tanya
malam ini:
MALAM BULAN RAMADHAN
ada bulan diatas kuburan
sebuah pertanda pesta yang usai…….
ataukah
pesta ini baru dimulai?
( 007 baca: Oktober 07 )
-oOo-
Friday, April 17, 2009
se-”gila” apakah kamu?
“Colombus, kamu sungguh sudah menjadi gila,” kata pejabat istana Kerajaan Spanyol kepada Colombus, si pelaut legendaris yang disebut-sebut membuka jalur pelayaran ke benua Amerika.
“Hai, Bung (begitu kira-kira jika diindonesiakan), tengoklah peradaban di luar jendela sana. Semua itu bisa terwujud karena ada orang-orang “gila” seperti saya.
Dialog itu saya kutip dari sebuah film tentang Christopher Colombus, yang saya tonton beberapa tahun silam. Tapi, dialog itu sungguh berkesan. “Gila”…. itu keyword-nya. Tapi “gila” dalam tanda petik. “Gila” dalam konotasi positif.
Saya setuju dengan pendapat Colombus bahwa peradaban yang menjulang sekarang ini bisa terwujud berkat manusia-manusia “gila” yang konsis dengan “kegilaannya”: “gila” kerja, “gila” ilmu, “gila” meneliti, “gila” berpikir untuk masa depan, dan “gila macam-macam (pokoknya positif).
Teori tentang matahari sebagai pusat tata surya, misalnya, bisa diakui berkat “kegilaan” Copernicus. Sekarang ini bisa ada pesawat terbang, juga karena “kegilaan” Wright bersaudara yang terobsesi untuk bisa terbang seperti burung. Dan sebagainya.
Bahkan, dalam konteks dan terminologi spiritual, Muhammad pernah dianggap “majnun” (baca: “gila”–lagi-lagi dalam tanda kutip) oleh para seterunya. Sekali lagi, “majnun” itu pun dalam konteks positif karena beliau dianggap tidak mau berkompromi dengan misi suci-nya.
Jadi, dalam konteks ini “gila” atau tidaknya kita sangat tergantung pada seberapa sinis orang menilai kegigigan kita untuk membina sesuatu yang bermakna bagi peradaban, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat hingga umat manusia.
Nah, sekarang pertanyaannya, “sudah seberapa “gila” kita, saya, anda, kalian, kamu…………….?”
“Hai, Bung (begitu kira-kira jika diindonesiakan), tengoklah peradaban di luar jendela sana. Semua itu bisa terwujud karena ada orang-orang “gila” seperti saya.
Dialog itu saya kutip dari sebuah film tentang Christopher Colombus, yang saya tonton beberapa tahun silam. Tapi, dialog itu sungguh berkesan. “Gila”…. itu keyword-nya. Tapi “gila” dalam tanda petik. “Gila” dalam konotasi positif.
Saya setuju dengan pendapat Colombus bahwa peradaban yang menjulang sekarang ini bisa terwujud berkat manusia-manusia “gila” yang konsis dengan “kegilaannya”: “gila” kerja, “gila” ilmu, “gila” meneliti, “gila” berpikir untuk masa depan, dan “gila macam-macam (pokoknya positif).
Teori tentang matahari sebagai pusat tata surya, misalnya, bisa diakui berkat “kegilaan” Copernicus. Sekarang ini bisa ada pesawat terbang, juga karena “kegilaan” Wright bersaudara yang terobsesi untuk bisa terbang seperti burung. Dan sebagainya.
Bahkan, dalam konteks dan terminologi spiritual, Muhammad pernah dianggap “majnun” (baca: “gila”–lagi-lagi dalam tanda kutip) oleh para seterunya. Sekali lagi, “majnun” itu pun dalam konteks positif karena beliau dianggap tidak mau berkompromi dengan misi suci-nya.
Jadi, dalam konteks ini “gila” atau tidaknya kita sangat tergantung pada seberapa sinis orang menilai kegigigan kita untuk membina sesuatu yang bermakna bagi peradaban, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat hingga umat manusia.
Nah, sekarang pertanyaannya, “sudah seberapa “gila” kita, saya, anda, kalian, kamu…………….?”
Thursday, March 26, 2009
Orang Beragama Lebih Tenang Hadapi Stres
Penelitian menunjukkan, otak orang yang beragama berbeda dengan yang tidak. Otak orang yang relijius jauh lebih tenang
Hidayatullah. com—Otak orang-orang yang relijius terbukti lebih tenang bila menghadapi situasi yang tidak pasti dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah saat mengalami kesalahan ketimbang orang-orang yang tidak mempercayai agama. Ini kesimpulan sebuah studi di Kanada yang mempelajari hubungan antara penganut agama dan aktivitas otak.
"Orang-orang relijius atau mereka yang percaya pada Tuhan terbukti memiliki tingkat stres atau kecemasan yang lebih rendah setelah melakukan kesalahan," ujar Michael Inzlicht, profesor psikologi University of Toronto.
Studi ini melibatkan kelompok kecil orang-orang yang percaya pada Tuhan dan tidak percaya dari berbagai latar belakang agama, termasuk umat Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.
Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner agama tentang keyakinan mereka terhadap Tuhan dan tingkat keimanan mereka. Lalu, mereka diminta untuk mengerjakan tugas Stroop, sebuah tes psikologi yang mengukur waktu reaksi selama menjalankan berbagai tugas seperti mengenali warna dengan cepat.
Pada tubuh setiap responden dipasang elektroda yang mengukur aktivitas di wilayah otak yang disebut anterior cingulate cortex (ACC). ACC berfungsi untuk mengendalikan emosi dan membantu orang untuk memodifikasi perilaku saat mengalami sebuah kejadian yang memicu kecemasan seperti saat melakukan kesalahan.
"Bagian ini akan terganggu saat Anda melakukan kesalahan atau dihadapkan pada situasi dimana Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan," jelas Inzlicht.
Penelitian menunjukkan aktivitas ACC pada orang yang relijius lebih rendah bila dibandingkan pada mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu cemas saat melakukan kesalahan selama tes.
Semakin kuat tingkat keimanan dan keyakinan pada Tuhan, semakin rendah aktivitas ACC sebagai respons atas kesalahan yang mereka lakukan sendiri.
Ini menunjukkan adanya korelasi antara keyakinan agama dan aktivitas otak. Namun begitu, para ahli masih belum mengetahui alasan yang tepat. Sekalipun peneliti menduga bahwa orang-orang yang relijius memiliki tujuan yang lebih besar ketimbang diri mereka sendiri khususnya kehidupan setelah kematian.
Hidayatullah. com—Otak orang-orang yang relijius terbukti lebih tenang bila menghadapi situasi yang tidak pasti dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah saat mengalami kesalahan ketimbang orang-orang yang tidak mempercayai agama. Ini kesimpulan sebuah studi di Kanada yang mempelajari hubungan antara penganut agama dan aktivitas otak.
"Orang-orang relijius atau mereka yang percaya pada Tuhan terbukti memiliki tingkat stres atau kecemasan yang lebih rendah setelah melakukan kesalahan," ujar Michael Inzlicht, profesor psikologi University of Toronto.
Studi ini melibatkan kelompok kecil orang-orang yang percaya pada Tuhan dan tidak percaya dari berbagai latar belakang agama, termasuk umat Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.
Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner agama tentang keyakinan mereka terhadap Tuhan dan tingkat keimanan mereka. Lalu, mereka diminta untuk mengerjakan tugas Stroop, sebuah tes psikologi yang mengukur waktu reaksi selama menjalankan berbagai tugas seperti mengenali warna dengan cepat.
Pada tubuh setiap responden dipasang elektroda yang mengukur aktivitas di wilayah otak yang disebut anterior cingulate cortex (ACC). ACC berfungsi untuk mengendalikan emosi dan membantu orang untuk memodifikasi perilaku saat mengalami sebuah kejadian yang memicu kecemasan seperti saat melakukan kesalahan.
"Bagian ini akan terganggu saat Anda melakukan kesalahan atau dihadapkan pada situasi dimana Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan," jelas Inzlicht.
Penelitian menunjukkan aktivitas ACC pada orang yang relijius lebih rendah bila dibandingkan pada mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu cemas saat melakukan kesalahan selama tes.
Semakin kuat tingkat keimanan dan keyakinan pada Tuhan, semakin rendah aktivitas ACC sebagai respons atas kesalahan yang mereka lakukan sendiri.
Ini menunjukkan adanya korelasi antara keyakinan agama dan aktivitas otak. Namun begitu, para ahli masih belum mengetahui alasan yang tepat. Sekalipun peneliti menduga bahwa orang-orang yang relijius memiliki tujuan yang lebih besar ketimbang diri mereka sendiri khususnya kehidupan setelah kematian.
Monday, March 23, 2009
Sahabat ...
kau pernah tawarkan musim hujan
yang menyejukkan jiwa
membasuh kemarau hati
menepis debu nurani
Tapi aku pilih musim semi
Yang penuh mimpi dan angan semu
kau pernah tawarkan matahari
yang menghangatkan luka
membakar buram kenangan silam
tapi aku pilih rembulan
yang sarat dengan puisi romantisme
Dan sekarang aku Tahu...
kau benar.
di sini, di putaran waktu
aku terengah-engah ditindih pilihan
tapi hidup terus berjalan
Tanpa peduli sesalku
Tanpa peduli dirimu.
Yang pernah menawarkan Musim hujan
dan matahari
Tapi Aku pilih musim semi
dan rembulan
yang menyejukkan jiwa
membasuh kemarau hati
menepis debu nurani
Tapi aku pilih musim semi
Yang penuh mimpi dan angan semu
kau pernah tawarkan matahari
yang menghangatkan luka
membakar buram kenangan silam
tapi aku pilih rembulan
yang sarat dengan puisi romantisme
Dan sekarang aku Tahu...
kau benar.
di sini, di putaran waktu
aku terengah-engah ditindih pilihan
tapi hidup terus berjalan
Tanpa peduli sesalku
Tanpa peduli dirimu.
Yang pernah menawarkan Musim hujan
dan matahari
Tapi Aku pilih musim semi
dan rembulan
Sunday, March 1, 2009
salma
Kabut Sunyi Mulai Merayap Di Hati
Bayangmu Semakin Sulit Kucari
Aku Tak Tau Harus Berbuat Apa
Angin Dan Burung-Burung Pun Membisu
Ketika Kutanya Tentangmu, Tentang Getaran Hatimu
Tentang Apa Saja Yang Bertalian Dengan Jiwamu... Ooo...
Bayangmu Semakin Sulit Kucari
Aku Tak Tau Harus Berbuat Apa
Angin Dan Burung-Burung Pun Membisu
Ketika Kutanya Tentangmu, Tentang Getaran Hatimu
Tentang Apa Saja Yang Bertalian Dengan Jiwamu... Ooo...
Subscribe to:
Posts (Atom)
