Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
Saturday, November 28, 2009
Sunday, September 27, 2009
PESAN TAUHID DALAM PUISI “SATU KEKASIHKU” KARYA EMHA AINUN NADJIB (1)
Oleh Adam Troy Effendy
Puisi “Satu Kekasihku” terdapat dalam antologi yang bertajuk Cahaya Maha Cahaya. Antologi ini diterbitkan pada tahun 1996 oleh penerbit Pustaka Firdaus. Berikut ini kutipan lengkap puisi tersebut.
SATU KEKASIHKU
Mati hidup satu kekasihku
Takkan kubikin ia cemburu
Kurahasiakan dari anak isteri
Kulindungi dari politik dan kiai
Pentakwilan makna puisi ini akan penulis lakukan baris per baris dengan maksud memudahkan pemahaman atasnya. Berikut ini uraian lengkapnya.
¨ Mati hidup satu kekasihku
Penempatan kata mati mendahului kata hidup cukup menarik di sini. Tampaknya sengaja dilakukan sedemikian oleh pengarang dengan maksud khusus; agar tertangkap keterkaitannya dengan beberapa dalil berikut.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(Q.S. Al-Ankabut:64)
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (Q.S. At-Taubah: 38)
Dunia itu ladang akhirat. Barang siapa menanam kebaikan akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Barang siapa menanam keburukan akan mendapat penyesalan. (hadis)
Orang mukmin beramal untuk dunia dan akhiratnya. Untuk dunianya, ia bekerja seperlunya saja. Ia mengambil sekadar untuk bekal perjalanan saja. Ia tidak mau mengambil banyak-banyak. Adapun orang bodoh, cita-citanya hanya untuk dunia. Tetapi orang arif bercita-cita untuk akhirat, kemudian untuk Al-Maula Azza wa Jalla. (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Sang “aku” dalam puisi di sini tampaknya mengingatkan bahwa sesungguhnya kita hidup di dunia ini dalam keadaan “mati” karena kehidupan dunia ini statusnya sekadar ladang yang hanya bisa dipanen hasilnya di akhirat. Terlebih, jelas-jelas dikatakan Tuhan bahwa kehidupan di dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya.
Di sini juga tersirat sindiran bagi setiap muslim yang tidak menyadari bahwa ia telah berbuat bodoh. Mengapa bodoh? Karena kebanyakan muslim ketika berhadapan dengan pemahaman agama tingkat lanjut yang dirasanya berat, segera hatinya berbisik dalam bentuk premis umum,”Ah, aku sih (beragama) yang biasa-biasa sajalah.” Ia sama sekali tidak menyadari bahwa premis khusus dari pernyataan hatinya itu bermakna,”Potensi dan usahaku yang luar biasa adalah untuk dunia (bekerja keras menumpuk tabungan agar punya cukup modal dan kelak layak menikah dengan orang baik-baik, bermartabat, kalau bisa juga kaya. Yang berarti juga mengangkat derajat keluarga besar. Lalu mempunyai anak-anak yang pintar dan saleh. Memiliki rumah dan kendaraan yang cukup bisa dibanggakan. Lalu menjadi kakek-nenek yang bahagia; mengisi hari tua dengan beribadah dan aktif dalam pertemuan arisan khusus haji atau menjadi yang terkemuka di acara pengajian bulanan. Dengan begini, mudah-mudahan masuk surga.)
Adapun frasa satu kekasihku, jika dihubungkan dengan baris ketiga yang berbunyi kurahasiakan dari anak istri serta-merta mengarahkan pembaca pada Tuhan. Pembaca tidak akan menuduh sang “aku” dalam puisi ini sedang menceritakan kekasih gelapnya karena puisi ini terangkum dalam antologi yang bernuansa religius. Sang “aku” justru sedang menegaskan bahwa yang menjadi buluh perindu; yang menguasai takhta cintanya adalah Tuhan Sang Terkasih.
¨ Takkan kubikin ia cemburu
Satu hal yang jarang diketahui orang adalah bahwa Allah Maha Pecemburu. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam kemuliaan dan paling diutamakan Allah. Kasih Allah lebih tercurah pada ciptaan yang satu ini. Manusia adalah makhluk kesayangan-Nya. Bahkan, Allah Swt. menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik dan Nabi Muhammad Saw. pun bersabda bahwa manusia diciptakan atas gambaran-Nya. Pengistimewaan manusia juga terbukti dalam tugas yang diembannya sebagai khalifah di muka bumi dan turunnya perintah sujud sekalian jin dan malaikat kepada Nabi Adam.
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku (Q.S. Ṯāhā:41)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. At-Tīn:4)
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (Q.S. Al-Isrā: 70)
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Q.S. Al-Hijr: 29)
Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa-Nya. (hadis)
Allah Swt. menciptakan Adam atas Rupa-Nya yang Maha Pengasih.(hadis)
Sang “aku” dalam puisi tidak ingin tergolong ke dalam manusia yang tidak tahu berterima kasih sehingga Allah kecewa terhadapnya. Seperti kecewanya seseorang yang memberikan bingkisan hadiah kepada anak kecil. Anak kecil itu begitu antusias sampai berlari-lari menghampiri. Ia lalu meraih bingkisan itu dan berpaling dengan ucapan terima kasih yang samar. Sejurus kemudian, anak itu asyik membuka bingkisan dan telah lupa sama sekali dengan sang pemberi hadiah.
Allah murka jika manusia lupa dan berpaling kepada selain-Nya. Apalagi berpaling justru kepada karunia yang Allah berikan padanya. Kisah Qarun adalah contoh yang paling mencolok untuk hal ini. Allah mengaruniakan kecerdasan akal pada Qarun hingga ia menjadi ahli kimia yang bisa mengubah logam biasa menjadi emas. Lalu Qarun berpaling dari Allah dengan mengatakan sesungguhnya segala kekayaannya itu berkat kecerdasan akalnya. Lalu Allah murka. Lalu allah membenamkan Qarun beserta seluruh kekayaannya ke dasar bumi. Inilah kisah Alquran yang mendasari frasa harta karun di kemudian hari.
Allah murka kepada manusia yang dikaruniai kecantikan, ketampanan, dan kemolekan tubuh yang dengan itu mereka mencari nafkah. Lalu mereka berlindung dalam dalih hak asasi, tuntutan profesi, dan ekspresi seni. Lalu mereka bertuhankan hak asasi, profesi, dan seni. Allah murka kepada ahli hukum yang memperkaya diri dengan memanfaatkan celah hukum yang diketahuinya. Lalu ia menjadi pembela manusia-manusia durhaka yang kaya. Lalu ia bertuhankan uang. Allah murka kepada manusia yang diberi kelihaian meraih simpati manusia sehingga ia memanfaatkannya untuk meraih ambisi pribadi; menjadi penjilat bagi penguasa hanya demi kedudukan lebih tinggi di mata manusia. Lalu ia bertuhankan ambisinya. Sang “aku” dalam puisi tidak mau menjadi manusia seperti itu.
Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah (Q.S. Al-Baqarah: 90)
Ya Rabb, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari-Mu (hadis)
Sesungguhnya Dia amat Pencemburu. Dia tidak suka seandainya di dalam hatimu ada selain Dia. Dan barang siapa menghendaki untuk menjadi kaya di dunia dan akhirat, hendaklah ia takut kepada Allah Swt., nukan kepada selain Dia. (syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Waspadalah, jangan teperdaya terhadap karunia-Ku dan jangan putus harapan karena uji-coba-Ku, dan jangan jinak bermanja dengan selain-Ku.
Lalu Aku pun bersumpah demi karunia-karunia-Ku, selama engkau menjarak keluar dari-Ku untuk minum, melainkan akan Kusia-siakan engkau. Jangan diharapkan engkau akan dapat kembali berdampingan dengan-Ku dan tidak pula engkau akan berhasil mendapatkan minuman yang engkau harap-harapkan. Maka sesungguhnya engkau telah sesat jalan dari-Ku dan engkau telah melupakan bahwa Aku-lah sebenarnya minuman Yang Maha Tunggal dan rumah tempat berlindungmu yang tunggal. (Kitab Melihat Allah {Ru`yatullah} Imam Hasan An-Nafri)
Puisi “Satu Kekasihku” terdapat dalam antologi yang bertajuk Cahaya Maha Cahaya. Antologi ini diterbitkan pada tahun 1996 oleh penerbit Pustaka Firdaus. Berikut ini kutipan lengkap puisi tersebut.
SATU KEKASIHKU
Mati hidup satu kekasihku
Takkan kubikin ia cemburu
Kurahasiakan dari anak isteri
Kulindungi dari politik dan kiai
Pentakwilan makna puisi ini akan penulis lakukan baris per baris dengan maksud memudahkan pemahaman atasnya. Berikut ini uraian lengkapnya.
¨ Mati hidup satu kekasihku
Penempatan kata mati mendahului kata hidup cukup menarik di sini. Tampaknya sengaja dilakukan sedemikian oleh pengarang dengan maksud khusus; agar tertangkap keterkaitannya dengan beberapa dalil berikut.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(Q.S. Al-Ankabut:64)
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (Q.S. At-Taubah: 38)
Dunia itu ladang akhirat. Barang siapa menanam kebaikan akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Barang siapa menanam keburukan akan mendapat penyesalan. (hadis)
Orang mukmin beramal untuk dunia dan akhiratnya. Untuk dunianya, ia bekerja seperlunya saja. Ia mengambil sekadar untuk bekal perjalanan saja. Ia tidak mau mengambil banyak-banyak. Adapun orang bodoh, cita-citanya hanya untuk dunia. Tetapi orang arif bercita-cita untuk akhirat, kemudian untuk Al-Maula Azza wa Jalla. (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Sang “aku” dalam puisi di sini tampaknya mengingatkan bahwa sesungguhnya kita hidup di dunia ini dalam keadaan “mati” karena kehidupan dunia ini statusnya sekadar ladang yang hanya bisa dipanen hasilnya di akhirat. Terlebih, jelas-jelas dikatakan Tuhan bahwa kehidupan di dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya.
Di sini juga tersirat sindiran bagi setiap muslim yang tidak menyadari bahwa ia telah berbuat bodoh. Mengapa bodoh? Karena kebanyakan muslim ketika berhadapan dengan pemahaman agama tingkat lanjut yang dirasanya berat, segera hatinya berbisik dalam bentuk premis umum,”Ah, aku sih (beragama) yang biasa-biasa sajalah.” Ia sama sekali tidak menyadari bahwa premis khusus dari pernyataan hatinya itu bermakna,”Potensi dan usahaku yang luar biasa adalah untuk dunia (bekerja keras menumpuk tabungan agar punya cukup modal dan kelak layak menikah dengan orang baik-baik, bermartabat, kalau bisa juga kaya. Yang berarti juga mengangkat derajat keluarga besar. Lalu mempunyai anak-anak yang pintar dan saleh. Memiliki rumah dan kendaraan yang cukup bisa dibanggakan. Lalu menjadi kakek-nenek yang bahagia; mengisi hari tua dengan beribadah dan aktif dalam pertemuan arisan khusus haji atau menjadi yang terkemuka di acara pengajian bulanan. Dengan begini, mudah-mudahan masuk surga.)
Adapun frasa satu kekasihku, jika dihubungkan dengan baris ketiga yang berbunyi kurahasiakan dari anak istri serta-merta mengarahkan pembaca pada Tuhan. Pembaca tidak akan menuduh sang “aku” dalam puisi ini sedang menceritakan kekasih gelapnya karena puisi ini terangkum dalam antologi yang bernuansa religius. Sang “aku” justru sedang menegaskan bahwa yang menjadi buluh perindu; yang menguasai takhta cintanya adalah Tuhan Sang Terkasih.
¨ Takkan kubikin ia cemburu
Satu hal yang jarang diketahui orang adalah bahwa Allah Maha Pecemburu. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam kemuliaan dan paling diutamakan Allah. Kasih Allah lebih tercurah pada ciptaan yang satu ini. Manusia adalah makhluk kesayangan-Nya. Bahkan, Allah Swt. menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik dan Nabi Muhammad Saw. pun bersabda bahwa manusia diciptakan atas gambaran-Nya. Pengistimewaan manusia juga terbukti dalam tugas yang diembannya sebagai khalifah di muka bumi dan turunnya perintah sujud sekalian jin dan malaikat kepada Nabi Adam.
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku (Q.S. Ṯāhā:41)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. At-Tīn:4)
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (Q.S. Al-Isrā: 70)
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Q.S. Al-Hijr: 29)
Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa-Nya. (hadis)
Allah Swt. menciptakan Adam atas Rupa-Nya yang Maha Pengasih.(hadis)
Sang “aku” dalam puisi tidak ingin tergolong ke dalam manusia yang tidak tahu berterima kasih sehingga Allah kecewa terhadapnya. Seperti kecewanya seseorang yang memberikan bingkisan hadiah kepada anak kecil. Anak kecil itu begitu antusias sampai berlari-lari menghampiri. Ia lalu meraih bingkisan itu dan berpaling dengan ucapan terima kasih yang samar. Sejurus kemudian, anak itu asyik membuka bingkisan dan telah lupa sama sekali dengan sang pemberi hadiah.
Allah murka jika manusia lupa dan berpaling kepada selain-Nya. Apalagi berpaling justru kepada karunia yang Allah berikan padanya. Kisah Qarun adalah contoh yang paling mencolok untuk hal ini. Allah mengaruniakan kecerdasan akal pada Qarun hingga ia menjadi ahli kimia yang bisa mengubah logam biasa menjadi emas. Lalu Qarun berpaling dari Allah dengan mengatakan sesungguhnya segala kekayaannya itu berkat kecerdasan akalnya. Lalu Allah murka. Lalu allah membenamkan Qarun beserta seluruh kekayaannya ke dasar bumi. Inilah kisah Alquran yang mendasari frasa harta karun di kemudian hari.
Allah murka kepada manusia yang dikaruniai kecantikan, ketampanan, dan kemolekan tubuh yang dengan itu mereka mencari nafkah. Lalu mereka berlindung dalam dalih hak asasi, tuntutan profesi, dan ekspresi seni. Lalu mereka bertuhankan hak asasi, profesi, dan seni. Allah murka kepada ahli hukum yang memperkaya diri dengan memanfaatkan celah hukum yang diketahuinya. Lalu ia menjadi pembela manusia-manusia durhaka yang kaya. Lalu ia bertuhankan uang. Allah murka kepada manusia yang diberi kelihaian meraih simpati manusia sehingga ia memanfaatkannya untuk meraih ambisi pribadi; menjadi penjilat bagi penguasa hanya demi kedudukan lebih tinggi di mata manusia. Lalu ia bertuhankan ambisinya. Sang “aku” dalam puisi tidak mau menjadi manusia seperti itu.
Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah (Q.S. Al-Baqarah: 90)
Ya Rabb, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari-Mu (hadis)
Sesungguhnya Dia amat Pencemburu. Dia tidak suka seandainya di dalam hatimu ada selain Dia. Dan barang siapa menghendaki untuk menjadi kaya di dunia dan akhirat, hendaklah ia takut kepada Allah Swt., nukan kepada selain Dia. (syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)
Waspadalah, jangan teperdaya terhadap karunia-Ku dan jangan putus harapan karena uji-coba-Ku, dan jangan jinak bermanja dengan selain-Ku.
Lalu Aku pun bersumpah demi karunia-karunia-Ku, selama engkau menjarak keluar dari-Ku untuk minum, melainkan akan Kusia-siakan engkau. Jangan diharapkan engkau akan dapat kembali berdampingan dengan-Ku dan tidak pula engkau akan berhasil mendapatkan minuman yang engkau harap-harapkan. Maka sesungguhnya engkau telah sesat jalan dari-Ku dan engkau telah melupakan bahwa Aku-lah sebenarnya minuman Yang Maha Tunggal dan rumah tempat berlindungmu yang tunggal. (Kitab Melihat Allah {Ru`yatullah} Imam Hasan An-Nafri)
Thursday, August 20, 2009
Ramadhan
Ada BULAN DIATAS KUBURAN
HB Yassin sang Kritikus Sastra Indonesia (yang belum ada penggantinya hingga kini), pernah dibikin pusing oleh sebuah puisi. Puisi itu hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama adalah judul, dan baris kedua adalah isi.
Puisi itu sbb:
MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan
Demikian cerita dari seorang teman yang adalah pengamat sastra pula, diawal tahun delapan puluhan. Konon kabarnya sajak ini sempat dibawa berhari-hari oleh Yassin sebagai topik diskusi, tanpa ada solusi interpretasi, hingga kemudiannya terlupakan begitu saja.
Sajak itu ditulis oleh Toto Sudarto Bahtiar, seorang penyair yang tidak begitu produktif, namun cukup dikenal di jagad sastra Indonesia ini. Malahan NH Dini sebagai seorang penulis novel ternama dizamannya, sering membuka novelnya dengan bait-bait puisi karya Toto S. Bahtiar ini.
Di suatu saat yang lain, aku menemukan pula sebuah lukisan yang berjudul mirip: BULAN DIATAS KUBURAN. Suatu kebetulankah?. Itupun berlalu begitu saja pula ketika lukisan itu kupajang, selain sekeping pemikiran akan kemungkinan adanya hubungan antara puisi Toto Sudarto dengan lukisan itu.
Makanya, ketika aku berjumpa dengan penulis Toto, yang akrab kusapa dengan “Bang To” (orang lain memanggilnya Kang Toto). Kamipun berdiskusi panjang. Akupun bertanya tentang puisinya yang “hanya” dua baris itu, tentang interpretasi yang terkandung disana, tentang bagaimana inspirasinya, dsb, dsb. Jawaban Bang To terdengar ringan, namun mengejutkan:
- Bang To lupa tuh………. Apa memang bang To pernah menulis itu ya?.
Akupun menyampaikan cerita temanku tadi. Lalu akupun kemudian jadi semakin kaget ketika bang To menukas:
- Masa sih? Yassin sampai begitu?.
Juga semakin penuh mysteri ketika aku bertanya pula tentang NH Dini yang selalu menyelipkan puisinya bang To ini disetiap novelnya.
- He, he……. begitu? Bang To belum pernah baca.
- Sepertinya NH Dini akrab sekali dengan bang To.
- Tidak…..tidak…… bang To belum kenal Dini……..
( ………….Sekarang tinggal hanya NH Dini seorang yang bisa mengungkap mysteri ini. )
Memang bang To ini penuh mysteri. Orangnya sederhana, dan terkadang kocak. Wajahnya asli Indonesia, menguasai beberapa bahasa asing dan bahasa daerah, termasuk bahasa Minang dengan lancar, meskipun dari lahirnya selalu bermukim di Tanah Pasundan. Oleh karena itu pula beliau lebih sering menjadi penterjemah dari karya-karya asing.
Pernah sekali ketika kami berdua saling berbincang, seseorang datang mendekat sembari menjabat tangannya. Keduanyapun tampak cepat akrab, walaupun kenyataannya itu adalah perkenalan pertama mereka.
- Rasanya sebelum ini saya sering lihat bapak,….. tapi dimana ya?
Orang itu bertanya serius. Bang To dengan senyum khasnya menjawab.
- Oh, anda sering nonton film Indonesia barangkali?
- Ya,…..kadang-kadang……
- Nah…. sering lihat Roy Marten ……..?
Maka meledaklah tawa kami hingga berderai dengan jawaban yang terkesan konyol, tapi ngocak itu. Siapa yang tak kenal Roy Marten yang amat populer saat itu, dengan wajahnya yang indo, sedangkan bang To berwajah asli Melayu Sunda, dan kulit sawo yang lebih mengarah ke gelap. Apalagi setahuku bang To belum pernah main film……..
Maka ketika dua hari menjelang lebaran 1 Syawal 1428 H (Oktober 2007), ………akupun terkaget menerima SMS, berita tentang telah berpulangnya Bang To di Banjar Ciamis……… Sesaat ada petir yang menggelegar. Dan gelegar itu semakin kencang, ketika teman yang pernah bercerita diawal tahun delapan puluhan dulu, pada hari ini khusus mendatangi ku pula. Wajahnya sumringah sambil mengajukan kedua jempol:
- Baru terkuak mysteri itu setelah lebih dua puluh tahun……… Kang Toto ternyata sudah tahu benar kapan dia akan pulang………
Akupun bergegas mencari lukisan BULAN DIATAS KUBURAN yang kukemas dengan rapi ketika aku pindah rumah bulan yang lalu. Oh,…. ternyata ada……… Bungkusannya masih rapi, dan sekarang aku ingin memajang lukisan itu kembali.
Tapi Masya Allah……. dalam bungkusan itu hanya ada piguranya saja. Lukisannya telah lenyap…… Apakah mungkin dulu orang-orang yang yang membantu mengangkut barang-barang menganggap lukisan itu tidak berarti? Dan lalu membuangnya?. Atau ada yang sengaja mencuri………?. Tidak mungkin. Bukankah aku sendiri yang membungkusnya dengan rapi?.
Memang lukisan itu hanya terdiri dari warna hitam dan kuning dalam aliran abstrak, serta usang …… tak akan pernah menarik bagi orang awam. Lalu……?. Lalu kenapa lenyap begitu saja?. Kebetulan lagi kah?. Pigura itupun sekarang kosong melompong……… Lama aku terpana. Sekali lagi mysteri itu datang mengusik. Mysteri BULAN DIATAS KUBURAN……. yang pernah tercetus dari seorang Toto Sudarto Bahtiar……….
-oOo-
A n d r e s
ADA BULAN DI AKHIR RAMADHAN
(In Memorium TOTO SUDARTO BAHTIAR Medio 007)
mereka bicara:
tentang bulan yang penuh mysteri
dan mereka juga bercerita:
tentang kuburan yang pula mysteri
lalu kau tulis:
tentang keduanya
dalam kata
tulisan itu hadir dengan perkasa
ditengah gemuruh zaman yang berlari
mengejar sunyi
diantara asap-asap kretek…..
yang membubung tinggi
lalu
buyar
pernahkah kau perduli
akan mereka yang datang
membawa setanggi ?
setanggi yang wangi
penuh mysteri
sewangi mysteri sajakmu:
“MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan”
malam ini
ada bulan diatasmu
malam ini
ada seremonial pesta wisuda
malam ini
malam bulan Ramadhan
seperti yang ada dalam sajak-mu
kau hadir
dengan sedekap yang takzim
tampil dalam toga kebesaran
yang putih bersih
maka
mysteri pun terkuak
dalam bekunya
diam-mu
yang
ka-
ku
aku pun sesaat terpana:
ketika ada senyum yang mengiring
menjawab semua tanda tanya
malam ini:
MALAM BULAN RAMADHAN
ada bulan diatas kuburan
sebuah pertanda pesta yang usai…….
ataukah
pesta ini baru dimulai?
( 007 baca: Oktober 07 )
-oOo-
HB Yassin sang Kritikus Sastra Indonesia (yang belum ada penggantinya hingga kini), pernah dibikin pusing oleh sebuah puisi. Puisi itu hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama adalah judul, dan baris kedua adalah isi.
Puisi itu sbb:
MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan
Demikian cerita dari seorang teman yang adalah pengamat sastra pula, diawal tahun delapan puluhan. Konon kabarnya sajak ini sempat dibawa berhari-hari oleh Yassin sebagai topik diskusi, tanpa ada solusi interpretasi, hingga kemudiannya terlupakan begitu saja.
Sajak itu ditulis oleh Toto Sudarto Bahtiar, seorang penyair yang tidak begitu produktif, namun cukup dikenal di jagad sastra Indonesia ini. Malahan NH Dini sebagai seorang penulis novel ternama dizamannya, sering membuka novelnya dengan bait-bait puisi karya Toto S. Bahtiar ini.
Di suatu saat yang lain, aku menemukan pula sebuah lukisan yang berjudul mirip: BULAN DIATAS KUBURAN. Suatu kebetulankah?. Itupun berlalu begitu saja pula ketika lukisan itu kupajang, selain sekeping pemikiran akan kemungkinan adanya hubungan antara puisi Toto Sudarto dengan lukisan itu.
Makanya, ketika aku berjumpa dengan penulis Toto, yang akrab kusapa dengan “Bang To” (orang lain memanggilnya Kang Toto). Kamipun berdiskusi panjang. Akupun bertanya tentang puisinya yang “hanya” dua baris itu, tentang interpretasi yang terkandung disana, tentang bagaimana inspirasinya, dsb, dsb. Jawaban Bang To terdengar ringan, namun mengejutkan:
- Bang To lupa tuh………. Apa memang bang To pernah menulis itu ya?.
Akupun menyampaikan cerita temanku tadi. Lalu akupun kemudian jadi semakin kaget ketika bang To menukas:
- Masa sih? Yassin sampai begitu?.
Juga semakin penuh mysteri ketika aku bertanya pula tentang NH Dini yang selalu menyelipkan puisinya bang To ini disetiap novelnya.
- He, he……. begitu? Bang To belum pernah baca.
- Sepertinya NH Dini akrab sekali dengan bang To.
- Tidak…..tidak…… bang To belum kenal Dini……..
( ………….Sekarang tinggal hanya NH Dini seorang yang bisa mengungkap mysteri ini. )
Memang bang To ini penuh mysteri. Orangnya sederhana, dan terkadang kocak. Wajahnya asli Indonesia, menguasai beberapa bahasa asing dan bahasa daerah, termasuk bahasa Minang dengan lancar, meskipun dari lahirnya selalu bermukim di Tanah Pasundan. Oleh karena itu pula beliau lebih sering menjadi penterjemah dari karya-karya asing.
Pernah sekali ketika kami berdua saling berbincang, seseorang datang mendekat sembari menjabat tangannya. Keduanyapun tampak cepat akrab, walaupun kenyataannya itu adalah perkenalan pertama mereka.
- Rasanya sebelum ini saya sering lihat bapak,….. tapi dimana ya?
Orang itu bertanya serius. Bang To dengan senyum khasnya menjawab.
- Oh, anda sering nonton film Indonesia barangkali?
- Ya,…..kadang-kadang……
- Nah…. sering lihat Roy Marten ……..?
Maka meledaklah tawa kami hingga berderai dengan jawaban yang terkesan konyol, tapi ngocak itu. Siapa yang tak kenal Roy Marten yang amat populer saat itu, dengan wajahnya yang indo, sedangkan bang To berwajah asli Melayu Sunda, dan kulit sawo yang lebih mengarah ke gelap. Apalagi setahuku bang To belum pernah main film……..
Maka ketika dua hari menjelang lebaran 1 Syawal 1428 H (Oktober 2007), ………akupun terkaget menerima SMS, berita tentang telah berpulangnya Bang To di Banjar Ciamis……… Sesaat ada petir yang menggelegar. Dan gelegar itu semakin kencang, ketika teman yang pernah bercerita diawal tahun delapan puluhan dulu, pada hari ini khusus mendatangi ku pula. Wajahnya sumringah sambil mengajukan kedua jempol:
- Baru terkuak mysteri itu setelah lebih dua puluh tahun……… Kang Toto ternyata sudah tahu benar kapan dia akan pulang………
Akupun bergegas mencari lukisan BULAN DIATAS KUBURAN yang kukemas dengan rapi ketika aku pindah rumah bulan yang lalu. Oh,…. ternyata ada……… Bungkusannya masih rapi, dan sekarang aku ingin memajang lukisan itu kembali.
Tapi Masya Allah……. dalam bungkusan itu hanya ada piguranya saja. Lukisannya telah lenyap…… Apakah mungkin dulu orang-orang yang yang membantu mengangkut barang-barang menganggap lukisan itu tidak berarti? Dan lalu membuangnya?. Atau ada yang sengaja mencuri………?. Tidak mungkin. Bukankah aku sendiri yang membungkusnya dengan rapi?.
Memang lukisan itu hanya terdiri dari warna hitam dan kuning dalam aliran abstrak, serta usang …… tak akan pernah menarik bagi orang awam. Lalu……?. Lalu kenapa lenyap begitu saja?. Kebetulan lagi kah?. Pigura itupun sekarang kosong melompong……… Lama aku terpana. Sekali lagi mysteri itu datang mengusik. Mysteri BULAN DIATAS KUBURAN……. yang pernah tercetus dari seorang Toto Sudarto Bahtiar……….
-oOo-
A n d r e s
ADA BULAN DI AKHIR RAMADHAN
(In Memorium TOTO SUDARTO BAHTIAR Medio 007)
mereka bicara:
tentang bulan yang penuh mysteri
dan mereka juga bercerita:
tentang kuburan yang pula mysteri
lalu kau tulis:
tentang keduanya
dalam kata
tulisan itu hadir dengan perkasa
ditengah gemuruh zaman yang berlari
mengejar sunyi
diantara asap-asap kretek…..
yang membubung tinggi
lalu
buyar
pernahkah kau perduli
akan mereka yang datang
membawa setanggi ?
setanggi yang wangi
penuh mysteri
sewangi mysteri sajakmu:
“MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan”
malam ini
ada bulan diatasmu
malam ini
ada seremonial pesta wisuda
malam ini
malam bulan Ramadhan
seperti yang ada dalam sajak-mu
kau hadir
dengan sedekap yang takzim
tampil dalam toga kebesaran
yang putih bersih
maka
mysteri pun terkuak
dalam bekunya
diam-mu
yang
ka-
ku
aku pun sesaat terpana:
ketika ada senyum yang mengiring
menjawab semua tanda tanya
malam ini:
MALAM BULAN RAMADHAN
ada bulan diatas kuburan
sebuah pertanda pesta yang usai…….
ataukah
pesta ini baru dimulai?
( 007 baca: Oktober 07 )
-oOo-
Friday, April 17, 2009
se-”gila” apakah kamu?
“Colombus, kamu sungguh sudah menjadi gila,” kata pejabat istana Kerajaan Spanyol kepada Colombus, si pelaut legendaris yang disebut-sebut membuka jalur pelayaran ke benua Amerika.
“Hai, Bung (begitu kira-kira jika diindonesiakan), tengoklah peradaban di luar jendela sana. Semua itu bisa terwujud karena ada orang-orang “gila” seperti saya.
Dialog itu saya kutip dari sebuah film tentang Christopher Colombus, yang saya tonton beberapa tahun silam. Tapi, dialog itu sungguh berkesan. “Gila”…. itu keyword-nya. Tapi “gila” dalam tanda petik. “Gila” dalam konotasi positif.
Saya setuju dengan pendapat Colombus bahwa peradaban yang menjulang sekarang ini bisa terwujud berkat manusia-manusia “gila” yang konsis dengan “kegilaannya”: “gila” kerja, “gila” ilmu, “gila” meneliti, “gila” berpikir untuk masa depan, dan “gila macam-macam (pokoknya positif).
Teori tentang matahari sebagai pusat tata surya, misalnya, bisa diakui berkat “kegilaan” Copernicus. Sekarang ini bisa ada pesawat terbang, juga karena “kegilaan” Wright bersaudara yang terobsesi untuk bisa terbang seperti burung. Dan sebagainya.
Bahkan, dalam konteks dan terminologi spiritual, Muhammad pernah dianggap “majnun” (baca: “gila”–lagi-lagi dalam tanda kutip) oleh para seterunya. Sekali lagi, “majnun” itu pun dalam konteks positif karena beliau dianggap tidak mau berkompromi dengan misi suci-nya.
Jadi, dalam konteks ini “gila” atau tidaknya kita sangat tergantung pada seberapa sinis orang menilai kegigigan kita untuk membina sesuatu yang bermakna bagi peradaban, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat hingga umat manusia.
Nah, sekarang pertanyaannya, “sudah seberapa “gila” kita, saya, anda, kalian, kamu…………….?”
“Hai, Bung (begitu kira-kira jika diindonesiakan), tengoklah peradaban di luar jendela sana. Semua itu bisa terwujud karena ada orang-orang “gila” seperti saya.
Dialog itu saya kutip dari sebuah film tentang Christopher Colombus, yang saya tonton beberapa tahun silam. Tapi, dialog itu sungguh berkesan. “Gila”…. itu keyword-nya. Tapi “gila” dalam tanda petik. “Gila” dalam konotasi positif.
Saya setuju dengan pendapat Colombus bahwa peradaban yang menjulang sekarang ini bisa terwujud berkat manusia-manusia “gila” yang konsis dengan “kegilaannya”: “gila” kerja, “gila” ilmu, “gila” meneliti, “gila” berpikir untuk masa depan, dan “gila macam-macam (pokoknya positif).
Teori tentang matahari sebagai pusat tata surya, misalnya, bisa diakui berkat “kegilaan” Copernicus. Sekarang ini bisa ada pesawat terbang, juga karena “kegilaan” Wright bersaudara yang terobsesi untuk bisa terbang seperti burung. Dan sebagainya.
Bahkan, dalam konteks dan terminologi spiritual, Muhammad pernah dianggap “majnun” (baca: “gila”–lagi-lagi dalam tanda kutip) oleh para seterunya. Sekali lagi, “majnun” itu pun dalam konteks positif karena beliau dianggap tidak mau berkompromi dengan misi suci-nya.
Jadi, dalam konteks ini “gila” atau tidaknya kita sangat tergantung pada seberapa sinis orang menilai kegigigan kita untuk membina sesuatu yang bermakna bagi peradaban, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat hingga umat manusia.
Nah, sekarang pertanyaannya, “sudah seberapa “gila” kita, saya, anda, kalian, kamu…………….?”
Thursday, March 26, 2009
Orang Beragama Lebih Tenang Hadapi Stres
Penelitian menunjukkan, otak orang yang beragama berbeda dengan yang tidak. Otak orang yang relijius jauh lebih tenang
Hidayatullah. com—Otak orang-orang yang relijius terbukti lebih tenang bila menghadapi situasi yang tidak pasti dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah saat mengalami kesalahan ketimbang orang-orang yang tidak mempercayai agama. Ini kesimpulan sebuah studi di Kanada yang mempelajari hubungan antara penganut agama dan aktivitas otak.
"Orang-orang relijius atau mereka yang percaya pada Tuhan terbukti memiliki tingkat stres atau kecemasan yang lebih rendah setelah melakukan kesalahan," ujar Michael Inzlicht, profesor psikologi University of Toronto.
Studi ini melibatkan kelompok kecil orang-orang yang percaya pada Tuhan dan tidak percaya dari berbagai latar belakang agama, termasuk umat Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.
Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner agama tentang keyakinan mereka terhadap Tuhan dan tingkat keimanan mereka. Lalu, mereka diminta untuk mengerjakan tugas Stroop, sebuah tes psikologi yang mengukur waktu reaksi selama menjalankan berbagai tugas seperti mengenali warna dengan cepat.
Pada tubuh setiap responden dipasang elektroda yang mengukur aktivitas di wilayah otak yang disebut anterior cingulate cortex (ACC). ACC berfungsi untuk mengendalikan emosi dan membantu orang untuk memodifikasi perilaku saat mengalami sebuah kejadian yang memicu kecemasan seperti saat melakukan kesalahan.
"Bagian ini akan terganggu saat Anda melakukan kesalahan atau dihadapkan pada situasi dimana Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan," jelas Inzlicht.
Penelitian menunjukkan aktivitas ACC pada orang yang relijius lebih rendah bila dibandingkan pada mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu cemas saat melakukan kesalahan selama tes.
Semakin kuat tingkat keimanan dan keyakinan pada Tuhan, semakin rendah aktivitas ACC sebagai respons atas kesalahan yang mereka lakukan sendiri.
Ini menunjukkan adanya korelasi antara keyakinan agama dan aktivitas otak. Namun begitu, para ahli masih belum mengetahui alasan yang tepat. Sekalipun peneliti menduga bahwa orang-orang yang relijius memiliki tujuan yang lebih besar ketimbang diri mereka sendiri khususnya kehidupan setelah kematian.
Hidayatullah. com—Otak orang-orang yang relijius terbukti lebih tenang bila menghadapi situasi yang tidak pasti dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah saat mengalami kesalahan ketimbang orang-orang yang tidak mempercayai agama. Ini kesimpulan sebuah studi di Kanada yang mempelajari hubungan antara penganut agama dan aktivitas otak.
"Orang-orang relijius atau mereka yang percaya pada Tuhan terbukti memiliki tingkat stres atau kecemasan yang lebih rendah setelah melakukan kesalahan," ujar Michael Inzlicht, profesor psikologi University of Toronto.
Studi ini melibatkan kelompok kecil orang-orang yang percaya pada Tuhan dan tidak percaya dari berbagai latar belakang agama, termasuk umat Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.
Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner agama tentang keyakinan mereka terhadap Tuhan dan tingkat keimanan mereka. Lalu, mereka diminta untuk mengerjakan tugas Stroop, sebuah tes psikologi yang mengukur waktu reaksi selama menjalankan berbagai tugas seperti mengenali warna dengan cepat.
Pada tubuh setiap responden dipasang elektroda yang mengukur aktivitas di wilayah otak yang disebut anterior cingulate cortex (ACC). ACC berfungsi untuk mengendalikan emosi dan membantu orang untuk memodifikasi perilaku saat mengalami sebuah kejadian yang memicu kecemasan seperti saat melakukan kesalahan.
"Bagian ini akan terganggu saat Anda melakukan kesalahan atau dihadapkan pada situasi dimana Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan," jelas Inzlicht.
Penelitian menunjukkan aktivitas ACC pada orang yang relijius lebih rendah bila dibandingkan pada mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu cemas saat melakukan kesalahan selama tes.
Semakin kuat tingkat keimanan dan keyakinan pada Tuhan, semakin rendah aktivitas ACC sebagai respons atas kesalahan yang mereka lakukan sendiri.
Ini menunjukkan adanya korelasi antara keyakinan agama dan aktivitas otak. Namun begitu, para ahli masih belum mengetahui alasan yang tepat. Sekalipun peneliti menduga bahwa orang-orang yang relijius memiliki tujuan yang lebih besar ketimbang diri mereka sendiri khususnya kehidupan setelah kematian.
Monday, March 23, 2009
Sahabat ...
kau pernah tawarkan musim hujan
yang menyejukkan jiwa
membasuh kemarau hati
menepis debu nurani
Tapi aku pilih musim semi
Yang penuh mimpi dan angan semu
kau pernah tawarkan matahari
yang menghangatkan luka
membakar buram kenangan silam
tapi aku pilih rembulan
yang sarat dengan puisi romantisme
Dan sekarang aku Tahu...
kau benar.
di sini, di putaran waktu
aku terengah-engah ditindih pilihan
tapi hidup terus berjalan
Tanpa peduli sesalku
Tanpa peduli dirimu.
Yang pernah menawarkan Musim hujan
dan matahari
Tapi Aku pilih musim semi
dan rembulan
yang menyejukkan jiwa
membasuh kemarau hati
menepis debu nurani
Tapi aku pilih musim semi
Yang penuh mimpi dan angan semu
kau pernah tawarkan matahari
yang menghangatkan luka
membakar buram kenangan silam
tapi aku pilih rembulan
yang sarat dengan puisi romantisme
Dan sekarang aku Tahu...
kau benar.
di sini, di putaran waktu
aku terengah-engah ditindih pilihan
tapi hidup terus berjalan
Tanpa peduli sesalku
Tanpa peduli dirimu.
Yang pernah menawarkan Musim hujan
dan matahari
Tapi Aku pilih musim semi
dan rembulan
Sunday, March 1, 2009
salma
Kabut Sunyi Mulai Merayap Di Hati
Bayangmu Semakin Sulit Kucari
Aku Tak Tau Harus Berbuat Apa
Angin Dan Burung-Burung Pun Membisu
Ketika Kutanya Tentangmu, Tentang Getaran Hatimu
Tentang Apa Saja Yang Bertalian Dengan Jiwamu... Ooo...
Bayangmu Semakin Sulit Kucari
Aku Tak Tau Harus Berbuat Apa
Angin Dan Burung-Burung Pun Membisu
Ketika Kutanya Tentangmu, Tentang Getaran Hatimu
Tentang Apa Saja Yang Bertalian Dengan Jiwamu... Ooo...
Tuesday, February 24, 2009
Cukup Itu Berapa?
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya
ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun tanpa sempat berkata cukup.
ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun tanpa sempat berkata cukup.
Wednesday, February 18, 2009
MY MOM ONLY HAD ONE EYES
Aku benci ibuku,dia penyebab aku jadi malu..Dia bekerja sbg tukang masak utk para murid dan guru di sekolah,sebagai penumpu kehidupan keluarga. Pernah suatu kali saat aku masih di bangku sekolah SD dia datang ke sekolah dan mengatakan HALLO pada aku, aku sangat malu sekali, kenapa dia lakukan ini padaku, aku tak hiraukan dia dan aku tampakan muka kebencianku padanya dan aku langsung lari pergi. Ke esokan harinya teman kelasku mengejekku “ EEE ibumu punya mata satu….” Rasanya aku mau sembunyi saja, aku mau ibuku mati saja, lalu kutanyakan padanya hari itu juga, “” Ibu hanya bikin aku jadi bahan tertawaan aja, kenapa kau tak mati saja?!!, Ibuku tidak menjawab!!, bahkan aku tak peduli apa yang telah aku lakukan dan ucapkan, aku sangat marah sekali, aku pun tidak peduli apa perasaannya, rasanya aku mau lari dari rumah. Lalu aku belajar mati2an sehingga aku dapat beasiswa sekolah ke singapure, kemudian aku menikah, aku punya rumah sendiri, aku punya anak dan aku bahagia dengan kehidupanku.
Sampai suatu waktu, ibuku datang ketempatku karena dia rindu sudah bertahun2 tidak jumpa denganku dan juga dia belum pernah melihat cucunya. Saat dia berdiri di depan pintu, anak2ku tertawa melihatnya. Aku berteriak “ Berani2nya kau datang kerumahku dan bikin anak2ku jadi ketakutan!” PERGI SANA!!!,SEKARANG JUGA”. Begitupun Ibuku menjawab pelan “ oohh maaf saya salah alamat, dan kemudian dia pun menghilang dari pandanganku.
Lama kemudian, datang surat dari sekolahkudulu bahwa akan diadakan reuni, lalu aku bilang pada suamiku bahwa aku ada kungjungan kerja….setelah reuni, ada rasa ingin melihat rumah gubukku dulu,…tetanggaku menyampaikan bahwa dia “ibuku” telah meniggal dunia,tak ada setetes pun ait mata dariku,mereka beri aku surat darinya……..
“”” Anakku tersayang, ibu selalu merindukanmu, maafkan ibu saat datang ke SINGAPORE” dan juga telah menakutkan anak2mu. Ibu senang dengar kabar kau mau datang pada acara reuni,tapi ibu tidak mampu bangun dari tmpt tidur untuk melihatmu. Ibu juga mohon maaf karena selalu bikin kamu malu……untuk kau ketahui anakku saying,sewaktu kau masih kecil, kau terkena suatu kecelakaan sehingga kau kehilangan salah satu matamu nak, sebagai seorang ibu, ibu tidak bisa melihat kau begitu saja besar dengan mata sebelah…maka …kuberi kan yang kumiliki….ibu bangga sekali anakku telah melihat seluruh dunia dengan mata itu……Dari yang selalu menyayangimu…IBUMU”.
Umar bin Khatab meriwayatkan:
Pernah suatu kali kami melihat ibu2 di desa dan kami melihat
Betapa ibu2 itu mengambil bayi2nya serta memeluk dgn erat
Serta menyusui bayi2nya. Nabipun bertanya pada kami.”Apakah
Mungkin ibu itu akan membiarkan anaknya masuk neraka?” dan kami menjawab tentu tidak, apalagi bila ia mempunyai pilihan”Kemudian Nabipun berkata lagi,” ALLAH lebih saying lagi kepada hamba2nya melebihi sayangnya ibu itu pd bayinya”
Maha Besar ALLAH dengan segala firmannya pada surah AL Baqorah ayat 28 : Kenapa Kamu ingkar pada ALLAH yang dahulunya kamu tidak ada lalu ALLAH hadirkan kamu dan nantipun kamu kembali
P A D A - N Y A?
Sampai suatu waktu, ibuku datang ketempatku karena dia rindu sudah bertahun2 tidak jumpa denganku dan juga dia belum pernah melihat cucunya. Saat dia berdiri di depan pintu, anak2ku tertawa melihatnya. Aku berteriak “ Berani2nya kau datang kerumahku dan bikin anak2ku jadi ketakutan!” PERGI SANA!!!,SEKARANG JUGA”. Begitupun Ibuku menjawab pelan “ oohh maaf saya salah alamat, dan kemudian dia pun menghilang dari pandanganku.
Lama kemudian, datang surat dari sekolahkudulu bahwa akan diadakan reuni, lalu aku bilang pada suamiku bahwa aku ada kungjungan kerja….setelah reuni, ada rasa ingin melihat rumah gubukku dulu,…tetanggaku menyampaikan bahwa dia “ibuku” telah meniggal dunia,tak ada setetes pun ait mata dariku,mereka beri aku surat darinya……..
“”” Anakku tersayang, ibu selalu merindukanmu, maafkan ibu saat datang ke SINGAPORE” dan juga telah menakutkan anak2mu. Ibu senang dengar kabar kau mau datang pada acara reuni,tapi ibu tidak mampu bangun dari tmpt tidur untuk melihatmu. Ibu juga mohon maaf karena selalu bikin kamu malu……untuk kau ketahui anakku saying,sewaktu kau masih kecil, kau terkena suatu kecelakaan sehingga kau kehilangan salah satu matamu nak, sebagai seorang ibu, ibu tidak bisa melihat kau begitu saja besar dengan mata sebelah…maka …kuberi kan yang kumiliki….ibu bangga sekali anakku telah melihat seluruh dunia dengan mata itu……Dari yang selalu menyayangimu…IBUMU”.
Umar bin Khatab meriwayatkan:
Pernah suatu kali kami melihat ibu2 di desa dan kami melihat
Betapa ibu2 itu mengambil bayi2nya serta memeluk dgn erat
Serta menyusui bayi2nya. Nabipun bertanya pada kami.”Apakah
Mungkin ibu itu akan membiarkan anaknya masuk neraka?” dan kami menjawab tentu tidak, apalagi bila ia mempunyai pilihan”Kemudian Nabipun berkata lagi,” ALLAH lebih saying lagi kepada hamba2nya melebihi sayangnya ibu itu pd bayinya”
Maha Besar ALLAH dengan segala firmannya pada surah AL Baqorah ayat 28 : Kenapa Kamu ingkar pada ALLAH yang dahulunya kamu tidak ada lalu ALLAH hadirkan kamu dan nantipun kamu kembali
P A D A - N Y A?
Monday, February 16, 2009
Just 4 Salma
Tak Ada Yang Bisa Mengalahkanmu – Ady Naff
Biarkan aku terbuai dalam pesona dirimu
Biarkan aku terhanyut dalam samudra cintamu
Biarkan wangi yang kau tebarkan terus memelukku
Dan membuatku selalu merindukanmu
Tak ada satu yang mampu mengalahkan dirimu
Apa tak lagi memaksa tuk meraihmu
Saat ini kuakui aku telah terbius
Oleh cintamu untuk selamanya
Biarkan ku menjadi lilin pada mataharimu
Menyingkap semua tabir yang memayungi sinarmu
Dan biarkan seisi langit bersaksi atas dirimu
Pada setiap jiwa yang tersiksa
Tak ada satu yang mampu mengalahkan dirimu
Apa tak lagi memaksa tuk meraihmu
Saat ini kuakui aku telah terbius
Oleh cintamu untuk selamanya...
Selamanya... 4 X
Biarkan aku terbuai dalam pesona dirimu
Biarkan aku terhanyut dalam samudra cintamu
Biarkan wangi yang kau tebarkan terus memelukku
Dan membuatku selalu merindukanmu
Tak ada satu yang mampu mengalahkan dirimu
Apa tak lagi memaksa tuk meraihmu
Saat ini kuakui aku telah terbius
Oleh cintamu untuk selamanya
Biarkan ku menjadi lilin pada mataharimu
Menyingkap semua tabir yang memayungi sinarmu
Dan biarkan seisi langit bersaksi atas dirimu
Pada setiap jiwa yang tersiksa
Tak ada satu yang mampu mengalahkan dirimu
Apa tak lagi memaksa tuk meraihmu
Saat ini kuakui aku telah terbius
Oleh cintamu untuk selamanya...
Selamanya... 4 X
Tuesday, February 10, 2009
Perangkap Tikus
Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??" Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak "Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."
Ia mendatangi ayam dan berteriak "ada perangkap tikus" Sang Ayam berkata "Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku" Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata "Aku turut ber simpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan" Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. "Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali" Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular.
Sang ular berkata "Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku" Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan, sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Ia mendatangi ayam dan berteriak "ada perangkap tikus" Sang Ayam berkata "Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku" Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata "Aku turut ber simpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan" Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. "Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali" Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular.
Sang ular berkata "Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku" Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan, sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Nikmatnya Memperbanyak Sujud
Bersujud di hadapan Allah SWT termasuk ibadah yang paling mulia sekaligus sebagai sarana paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena, kata Rasulullah Saw, "Saat dimana seorang hamba paling dekat kepada Tuhannya, Allah Azza Wajalla, adalah ketika dia bersujud...." (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra).
Namun, tahukah Anda bahwa dengan banyak bersujud maka muatan-muatan listrik yang ada dalam tubuh kita akan kelaur karena diserap oleh bumi (tanah)?
Abdurrahman Al-Asymawi, seorang ulama terkemuka berkebangsaan Mesir dalam bukunya yang berjudul Basysyiru Wa La Tunffiru mengatakan, setiap hari tubuh menyerap cahaya dan tenaga listrik magnetis yang tak sedikit jumlahnya melalui perangkat-perangkat listrik yang kita gunakan. Sehingga dengan demikian tubuh ini menjadi alat untuk menyerap cahaya listrik magnetis dalam jumlah banyak. Artinya, tubuh mengangkut sejumlah tenaga listrik tanpa kita sadari.
Ketika kita mengalami influenza, badan terasa pegal, berat, sesak, malas dan lemah, hal ini menandakan bahwa tubuh sedang merasakan sesuatu dari muatan magnetis tersebut. Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Melalui riset ilmiahnya, seorang peneliti Barat yang non-muslim mengemukakan bahwa metode paling jitu untuk "mensucikan" tubuh dari kandungan listrik positif (yang berbahaya bagi tubuh) adalah dengan mengarahkan ubun ke bumi(tanah) lebih dari sekali. Karena, tanah itu sifatnya negatif maka ia akan menarik muatan lsitrik yang positif, yang terdapat dalam tubuh. Hal yang sama juga terjadi pada aliran (kabel) listrik dari gedung-gedung yang dialirkan ke dalam tanah. Tujuannaya adalah untuk menarik muatan listrik yang ada pada petir ke arah tanah.
Lebih jaun dia menjelaskan metode paling tepat adalah menempelkan ubun-ubun ke tanah secara langsung seraya memfokuskan arah pandangan ke arah pusat bumi. Karena, dalam keadaan seperti itu, muatan lsitrik yang ada dalam tubuh akan terserap oleh bumi sacara lebih kuat dan dalam jumlah yang banyak. Dan yang lebih mengagumkan adalah seperti yang kita ketahui bersama bahwa secara ilmiah pusat bumi adalah Makkah Al-Mukarramah. Lebih tepatnya lagi adalah Ka'bah, sebagaimana yang terdapat dalam kajian-kajian geografis dan disepakati oleh mereka yang ahli di bidangnya.
Jika demikian, sujud kepada Allah SWT yang kita lakukan setiap kali melaksanakan shalat adalah merupakan sarana yang paling tepat untuk membuang muatan-muatan listrik berbahaya tersebut, sekaligus menjadi sarana yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Maha Pancipta. "....maka, perbanyaklah oleh kalian bersujud," perintah Rasulullah (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Manfaat lain dari banyak bersujud adalah ampunan dan derajat yang tinggi di Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, "Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja karena Allah, maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahanmu.'" (HR. Muslim dari Tsauban Abu Abdullah)
Maka, dengan memperbanyak sujud, dua beban tubuh yang berbahaya, yaitu muatan listrik dan dosa, akan berkurang sehingga tubuh pun terasa ringan.
Dalam Shahih-nya, Muslim meriwayatakan bahwa Abu Firâs Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslamiy–khadim (pelayan) Rasulullah SAW dan termasuk ahlusshuffah- berkata, Suatu kali saya bermalam bersama Rasulullah SAW. Saya menyediakan air untuk beliau berwudhu dan untuk kepentingan beliau yang lain. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw bersabda, "Mintalah!" Saya menjawab, "Saya mohon agar dapat menemanimu di dalam surga." Maka beliau bertanya, 'Apakah ada permohonan lainnya?" Saya menjawab, "Hanya itu, wahai Rasulullah." Beliau lalu bersabda, "Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud."
Demikianlah Allah SWT mempersembahkan balasan yang terbaik bagi hamba-hamba- Nya banyak bersujud di hadapan-Nya. (m.yusuf s)
Namun, tahukah Anda bahwa dengan banyak bersujud maka muatan-muatan listrik yang ada dalam tubuh kita akan kelaur karena diserap oleh bumi (tanah)?
Abdurrahman Al-Asymawi, seorang ulama terkemuka berkebangsaan Mesir dalam bukunya yang berjudul Basysyiru Wa La Tunffiru mengatakan, setiap hari tubuh menyerap cahaya dan tenaga listrik magnetis yang tak sedikit jumlahnya melalui perangkat-perangkat listrik yang kita gunakan. Sehingga dengan demikian tubuh ini menjadi alat untuk menyerap cahaya listrik magnetis dalam jumlah banyak. Artinya, tubuh mengangkut sejumlah tenaga listrik tanpa kita sadari.
Ketika kita mengalami influenza, badan terasa pegal, berat, sesak, malas dan lemah, hal ini menandakan bahwa tubuh sedang merasakan sesuatu dari muatan magnetis tersebut. Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Melalui riset ilmiahnya, seorang peneliti Barat yang non-muslim mengemukakan bahwa metode paling jitu untuk "mensucikan" tubuh dari kandungan listrik positif (yang berbahaya bagi tubuh) adalah dengan mengarahkan ubun ke bumi(tanah) lebih dari sekali. Karena, tanah itu sifatnya negatif maka ia akan menarik muatan lsitrik yang positif, yang terdapat dalam tubuh. Hal yang sama juga terjadi pada aliran (kabel) listrik dari gedung-gedung yang dialirkan ke dalam tanah. Tujuannaya adalah untuk menarik muatan listrik yang ada pada petir ke arah tanah.
Lebih jaun dia menjelaskan metode paling tepat adalah menempelkan ubun-ubun ke tanah secara langsung seraya memfokuskan arah pandangan ke arah pusat bumi. Karena, dalam keadaan seperti itu, muatan lsitrik yang ada dalam tubuh akan terserap oleh bumi sacara lebih kuat dan dalam jumlah yang banyak. Dan yang lebih mengagumkan adalah seperti yang kita ketahui bersama bahwa secara ilmiah pusat bumi adalah Makkah Al-Mukarramah. Lebih tepatnya lagi adalah Ka'bah, sebagaimana yang terdapat dalam kajian-kajian geografis dan disepakati oleh mereka yang ahli di bidangnya.
Jika demikian, sujud kepada Allah SWT yang kita lakukan setiap kali melaksanakan shalat adalah merupakan sarana yang paling tepat untuk membuang muatan-muatan listrik berbahaya tersebut, sekaligus menjadi sarana yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Maha Pancipta. "....maka, perbanyaklah oleh kalian bersujud," perintah Rasulullah (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Manfaat lain dari banyak bersujud adalah ampunan dan derajat yang tinggi di Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, "Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja karena Allah, maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahanmu.'" (HR. Muslim dari Tsauban Abu Abdullah)
Maka, dengan memperbanyak sujud, dua beban tubuh yang berbahaya, yaitu muatan listrik dan dosa, akan berkurang sehingga tubuh pun terasa ringan.
Dalam Shahih-nya, Muslim meriwayatakan bahwa Abu Firâs Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslamiy–khadim (pelayan) Rasulullah SAW dan termasuk ahlusshuffah- berkata, Suatu kali saya bermalam bersama Rasulullah SAW. Saya menyediakan air untuk beliau berwudhu dan untuk kepentingan beliau yang lain. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw bersabda, "Mintalah!" Saya menjawab, "Saya mohon agar dapat menemanimu di dalam surga." Maka beliau bertanya, 'Apakah ada permohonan lainnya?" Saya menjawab, "Hanya itu, wahai Rasulullah." Beliau lalu bersabda, "Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud."
Demikianlah Allah SWT mempersembahkan balasan yang terbaik bagi hamba-hamba- Nya banyak bersujud di hadapan-Nya. (m.yusuf s)
Tukan Cukur dan Konsumenx
Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan
merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan
mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan
banyak hal dan berbagai variasi topic pembicaraan, dan sesaat topik
pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada". "Kenapa kamu berkata begitu ??" timpal si konsumen. "Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi." Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, "Saya ragu kalau tukang cukur itu ada." Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??". "Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!" "Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri. "Cocok!"-kata si konsumen menyetujui.
Si tukang cukur terbengong !!!!
merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan
mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan
banyak hal dan berbagai variasi topic pembicaraan, dan sesaat topik
pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada". "Kenapa kamu berkata begitu ??" timpal si konsumen. "Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi." Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, "Saya ragu kalau tukang cukur itu ada." Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??". "Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!" "Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri. "Cocok!"-kata si konsumen menyetujui.
Si tukang cukur terbengong !!!!
Imel Dan Tomat
Seorang pengangguran melamar pekerjaan sebagai "office boy"di Istana Negara (kantor SBY), Jakarta. Andi Mallarangeng mewawancara dia dan melihat dia membersihkan lantai sebagai tesnya.
"Kamu diterima," katanya, "berikan alamat e- mailmu dan saya akan mengirim formulir untuk diisi dan pemberitahuan kapan kamu mulai bekerja." Laki-laki itu menjawab,"Tapi saya tidak punya komputer, apalagi e-mail."
"Maaf," kata Mallarangeng. "Kalau kamu tidak punya e-mail, berarti kamu tidak hidup. Dan siapa yang tidak hidup, tidak bisa diterima bekerja."
Laki-laki itu pergi dengan harapan kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya dengan Rp.100.000 di dalam kantongnya. Kemudian ia memutuskan untuk pergi ke Pasar Minggu dan membeli 10kg peti tomat. Ia menjual tom at itu dari rumah ke rumah. Kurang dari 2 jam, dia berhasil melipatgandakan modalnya. Dia melakukan kerjanya tiga kali, dan pulang dengan membawa Rp.300.000
Dia pun sadar bahwa dia bisa bertahan hidup dengan cara ini. Ia mulai pergi bekerja lebih pagi dan pulang larut. Uangnya menjadi lebih banyak 2x sampai 3x lipat tiap hari.Dia pun membeli gerobak, lalu truk, kemudian akhirnya ia memiliki armada kendaraan pengirimannya sendiri.
Lima tahun kemudian, laki-laki itu sudah menjadi salah satu pengusaha makanan terbesar di Indonesia. Ia mulai merencanakan masa depan keluarga, dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa.
Ia menghubungi broker asuransi, dan memilih protection plan. Sang broker pun menanyakan alamat e-mailnya.
Laki-laki itu menjawab, "Saya tidak punya e-mail."
Sang broker bertanya dengan penasaran, "Anda tidak memiliki e-mail, tapi sukses membangun sebuah usaha besar. Bisakah Anda bayangkan, sudah jadi apa Anda kalau Anda punya e-mail?!"
Laki-laki itu berpikir sejenak lalu menjawab, "Ya, saya mungkin sudah jadi office boy di Istana Negara!!"
"Kamu diterima," katanya, "berikan alamat e- mailmu dan saya akan mengirim formulir untuk diisi dan pemberitahuan kapan kamu mulai bekerja." Laki-laki itu menjawab,"Tapi saya tidak punya komputer, apalagi e-mail."
"Maaf," kata Mallarangeng. "Kalau kamu tidak punya e-mail, berarti kamu tidak hidup. Dan siapa yang tidak hidup, tidak bisa diterima bekerja."
Laki-laki itu pergi dengan harapan kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya dengan Rp.100.000 di dalam kantongnya. Kemudian ia memutuskan untuk pergi ke Pasar Minggu dan membeli 10kg peti tomat. Ia menjual tom at itu dari rumah ke rumah. Kurang dari 2 jam, dia berhasil melipatgandakan modalnya. Dia melakukan kerjanya tiga kali, dan pulang dengan membawa Rp.300.000
Dia pun sadar bahwa dia bisa bertahan hidup dengan cara ini. Ia mulai pergi bekerja lebih pagi dan pulang larut. Uangnya menjadi lebih banyak 2x sampai 3x lipat tiap hari.Dia pun membeli gerobak, lalu truk, kemudian akhirnya ia memiliki armada kendaraan pengirimannya sendiri.
Lima tahun kemudian, laki-laki itu sudah menjadi salah satu pengusaha makanan terbesar di Indonesia. Ia mulai merencanakan masa depan keluarga, dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa.
Ia menghubungi broker asuransi, dan memilih protection plan. Sang broker pun menanyakan alamat e-mailnya.
Laki-laki itu menjawab, "Saya tidak punya e-mail."
Sang broker bertanya dengan penasaran, "Anda tidak memiliki e-mail, tapi sukses membangun sebuah usaha besar. Bisakah Anda bayangkan, sudah jadi apa Anda kalau Anda punya e-mail?!"
Laki-laki itu berpikir sejenak lalu menjawab, "Ya, saya mungkin sudah jadi office boy di Istana Negara!!"
Sunday, February 8, 2009
Wednesday, February 4, 2009
Sia-sia by chairil Anwar
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Tuesday, February 3, 2009
Terlambat.
Saat bermimpi
Lupa aku akan bangun nanti
Tanpa sadar persimpangan itu telah kulewati
Tak lagi bisa kmiliki apa yang kuingini
Betapapun aku siap
Goncanganya masih saja terasa
Sangat malah …
Jiwaku serasa ingin lepas.
Terlambat!
Aku bisa saja terus ke sana
Seandainya Kotak kecil itu ….
saya yang salah karena terus memandanginya
Seandainya …
Akh .. aku kan bisa bermimpi lagi
Dan mengurut semuanya dari awal lagi tapi
Apa mungkin?
Lupa aku akan bangun nanti
Tanpa sadar persimpangan itu telah kulewati
Tak lagi bisa kmiliki apa yang kuingini
Betapapun aku siap
Goncanganya masih saja terasa
Sangat malah …
Jiwaku serasa ingin lepas.
Terlambat!
Aku bisa saja terus ke sana
Seandainya Kotak kecil itu ….
saya yang salah karena terus memandanginya
Seandainya …
Akh .. aku kan bisa bermimpi lagi
Dan mengurut semuanya dari awal lagi tapi
Apa mungkin?
Jika Engkau Bersedih by Padi
jika engkau bersedih pastilah ini ada maksudnya
andai engkau bisa tertawa seharusnya bahagia
dan jika karma itu ada.. berpeganglah atas hatimu
karna kautak kan bisa.. mengabaikan takdirmu
tak usah lagi engkau menangis
seperti dulu melemahkan niatmu
semoga bertemu kembali
tetapkan hati berjuang bersama lagi
tahu kah engkau bahwa cinta itu adalah anugerah
sama seperti adanya hidup kita hidup ini
mengertikah engkau bahwasanya gagal itu bukanlah kekalahan
selama engkau memahami apa yang menguji hatimu
Jangan Datang Malam Ini by Padi
Kau datang mengejutkan diriku
Menikam hatiku… detak jantungku
Sesungguhnya ku tak inginkan dirimu
Disaat ini… di tempat ini…
Di pelupuk hatiku melupakanmu
Di pusara jiwaku
Pernah ku memiliki
Kisah tersembunyi dalam hidupku
(Mengapa) kau harus datang disini
(Malam) ini tak bisa aku hindari
(Maafkan) bila kumenafikanmu
(Bukan saatnya)… dan bukan waktunya
Apapun yang terjadi
Kau tahu, sebenarnya hidupku
Sudah menyenangkan…
Saat ini sudah cukup… cukup sudah…cukup sudah
Ku berbahagia
Tak sepatutnya kita berjumpa lagi
Tak sepantasnya aku
Menyimpan perasan di satu tanganku yang lain
(Mengapa) kau harus datang disini
(Malam) ini tak bisa aku hindari
(Maafkan) bila kumenafikanmu
(Bukan saatnya)… dan bukan waktunya
Semua tlah berakhir di hari itu
Tak perlu kususun lagi serpihan yang dulu
Aku tak bisa menjadikan semunya sempurna
Hanya keinginan yang terbaik
Bagi semuaa…
(Mengapa) kau harus datang disini
(Malam) ini tak bisa aku hindari
(Maafkan) bila kumenafikanmu
(Bukan saatnya)… dan bukan waktunya
(Mengapa) kau harus datang disini
(Malam) ini tak bisa aku hindari
(Maafkan…)
(Bukan saatnya)… dan bukan waktunya
Kau datang disini, terlanjur… mengejutkanku
Monday, February 2, 2009
Sunday, February 1, 2009
Flash Back
DEDDY MIZWAR
Melihat dengan hati
Cipt. Melly Goeslaw
Waktu terus berjalan
Sejarah tlah hilang
Bumi terus berputar
Kau pun harus bertahan
Langkahmu telah jauh dari masa lalu
Tapi bukan berarti kau melupakannya
Kau melupakannya…
REFF:
Berhenti sejenak dan lihat ke belakang
Semua yang telah negeri ini berikan
Ingatlah…ingatlah akan langkah di depan
Beralas pengorbanan masa lalu
*) Belajar dari yang kau lewati
Belajar dari yang terlewati
Belajar melihat dengan hati
Melihat dengan hati
Cipt. Melly Goeslaw
Waktu terus berjalan
Sejarah tlah hilang
Bumi terus berputar
Kau pun harus bertahan
Langkahmu telah jauh dari masa lalu
Tapi bukan berarti kau melupakannya
Kau melupakannya…
REFF:
Berhenti sejenak dan lihat ke belakang
Semua yang telah negeri ini berikan
Ingatlah…ingatlah akan langkah di depan
Beralas pengorbanan masa lalu
*) Belajar dari yang kau lewati
Belajar dari yang terlewati
Belajar melihat dengan hati
Subscribe to:
Comments (Atom)
