Ada BULAN DIATAS KUBURAN
HB Yassin sang Kritikus Sastra Indonesia (yang belum ada penggantinya hingga kini), pernah dibikin pusing oleh sebuah puisi. Puisi itu hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama adalah judul, dan baris kedua adalah isi.
Puisi itu sbb:
MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan
Demikian cerita dari seorang teman yang adalah pengamat sastra pula, diawal tahun delapan puluhan. Konon kabarnya sajak ini sempat dibawa berhari-hari oleh Yassin sebagai topik diskusi, tanpa ada solusi interpretasi, hingga kemudiannya terlupakan begitu saja.
Sajak itu ditulis oleh Toto Sudarto Bahtiar, seorang penyair yang tidak begitu produktif, namun cukup dikenal di jagad sastra Indonesia ini. Malahan NH Dini sebagai seorang penulis novel ternama dizamannya, sering membuka novelnya dengan bait-bait puisi karya Toto S. Bahtiar ini.
Di suatu saat yang lain, aku menemukan pula sebuah lukisan yang berjudul mirip: BULAN DIATAS KUBURAN. Suatu kebetulankah?. Itupun berlalu begitu saja pula ketika lukisan itu kupajang, selain sekeping pemikiran akan kemungkinan adanya hubungan antara puisi Toto Sudarto dengan lukisan itu.
Makanya, ketika aku berjumpa dengan penulis Toto, yang akrab kusapa dengan “Bang To” (orang lain memanggilnya Kang Toto). Kamipun berdiskusi panjang. Akupun bertanya tentang puisinya yang “hanya” dua baris itu, tentang interpretasi yang terkandung disana, tentang bagaimana inspirasinya, dsb, dsb. Jawaban Bang To terdengar ringan, namun mengejutkan:
- Bang To lupa tuh………. Apa memang bang To pernah menulis itu ya?.
Akupun menyampaikan cerita temanku tadi. Lalu akupun kemudian jadi semakin kaget ketika bang To menukas:
- Masa sih? Yassin sampai begitu?.
Juga semakin penuh mysteri ketika aku bertanya pula tentang NH Dini yang selalu menyelipkan puisinya bang To ini disetiap novelnya.
- He, he……. begitu? Bang To belum pernah baca.
- Sepertinya NH Dini akrab sekali dengan bang To.
- Tidak…..tidak…… bang To belum kenal Dini……..
( ………….Sekarang tinggal hanya NH Dini seorang yang bisa mengungkap mysteri ini. )
Memang bang To ini penuh mysteri. Orangnya sederhana, dan terkadang kocak. Wajahnya asli Indonesia, menguasai beberapa bahasa asing dan bahasa daerah, termasuk bahasa Minang dengan lancar, meskipun dari lahirnya selalu bermukim di Tanah Pasundan. Oleh karena itu pula beliau lebih sering menjadi penterjemah dari karya-karya asing.
Pernah sekali ketika kami berdua saling berbincang, seseorang datang mendekat sembari menjabat tangannya. Keduanyapun tampak cepat akrab, walaupun kenyataannya itu adalah perkenalan pertama mereka.
- Rasanya sebelum ini saya sering lihat bapak,….. tapi dimana ya?
Orang itu bertanya serius. Bang To dengan senyum khasnya menjawab.
- Oh, anda sering nonton film Indonesia barangkali?
- Ya,…..kadang-kadang……
- Nah…. sering lihat Roy Marten ……..?
Maka meledaklah tawa kami hingga berderai dengan jawaban yang terkesan konyol, tapi ngocak itu. Siapa yang tak kenal Roy Marten yang amat populer saat itu, dengan wajahnya yang indo, sedangkan bang To berwajah asli Melayu Sunda, dan kulit sawo yang lebih mengarah ke gelap. Apalagi setahuku bang To belum pernah main film……..
Maka ketika dua hari menjelang lebaran 1 Syawal 1428 H (Oktober 2007), ………akupun terkaget menerima SMS, berita tentang telah berpulangnya Bang To di Banjar Ciamis……… Sesaat ada petir yang menggelegar. Dan gelegar itu semakin kencang, ketika teman yang pernah bercerita diawal tahun delapan puluhan dulu, pada hari ini khusus mendatangi ku pula. Wajahnya sumringah sambil mengajukan kedua jempol:
- Baru terkuak mysteri itu setelah lebih dua puluh tahun……… Kang Toto ternyata sudah tahu benar kapan dia akan pulang………
Akupun bergegas mencari lukisan BULAN DIATAS KUBURAN yang kukemas dengan rapi ketika aku pindah rumah bulan yang lalu. Oh,…. ternyata ada……… Bungkusannya masih rapi, dan sekarang aku ingin memajang lukisan itu kembali.
Tapi Masya Allah……. dalam bungkusan itu hanya ada piguranya saja. Lukisannya telah lenyap…… Apakah mungkin dulu orang-orang yang yang membantu mengangkut barang-barang menganggap lukisan itu tidak berarti? Dan lalu membuangnya?. Atau ada yang sengaja mencuri………?. Tidak mungkin. Bukankah aku sendiri yang membungkusnya dengan rapi?.
Memang lukisan itu hanya terdiri dari warna hitam dan kuning dalam aliran abstrak, serta usang …… tak akan pernah menarik bagi orang awam. Lalu……?. Lalu kenapa lenyap begitu saja?. Kebetulan lagi kah?. Pigura itupun sekarang kosong melompong……… Lama aku terpana. Sekali lagi mysteri itu datang mengusik. Mysteri BULAN DIATAS KUBURAN……. yang pernah tercetus dari seorang Toto Sudarto Bahtiar……….
-oOo-
A n d r e s
ADA BULAN DI AKHIR RAMADHAN
(In Memorium TOTO SUDARTO BAHTIAR Medio 007)
mereka bicara:
tentang bulan yang penuh mysteri
dan mereka juga bercerita:
tentang kuburan yang pula mysteri
lalu kau tulis:
tentang keduanya
dalam kata
tulisan itu hadir dengan perkasa
ditengah gemuruh zaman yang berlari
mengejar sunyi
diantara asap-asap kretek…..
yang membubung tinggi
lalu
buyar
pernahkah kau perduli
akan mereka yang datang
membawa setanggi ?
setanggi yang wangi
penuh mysteri
sewangi mysteri sajakmu:
“MALAM BULAN RAMADHAN
bulan diatas kuburan”
malam ini
ada bulan diatasmu
malam ini
ada seremonial pesta wisuda
malam ini
malam bulan Ramadhan
seperti yang ada dalam sajak-mu
kau hadir
dengan sedekap yang takzim
tampil dalam toga kebesaran
yang putih bersih
maka
mysteri pun terkuak
dalam bekunya
diam-mu
yang
ka-
ku
aku pun sesaat terpana:
ketika ada senyum yang mengiring
menjawab semua tanda tanya
malam ini:
MALAM BULAN RAMADHAN
ada bulan diatas kuburan
sebuah pertanda pesta yang usai…….
ataukah
pesta ini baru dimulai?
( 007 baca: Oktober 07 )
-oOo-
Thursday, August 20, 2009
Friday, April 17, 2009
se-”gila” apakah kamu?
“Colombus, kamu sungguh sudah menjadi gila,” kata pejabat istana Kerajaan Spanyol kepada Colombus, si pelaut legendaris yang disebut-sebut membuka jalur pelayaran ke benua Amerika.
“Hai, Bung (begitu kira-kira jika diindonesiakan), tengoklah peradaban di luar jendela sana. Semua itu bisa terwujud karena ada orang-orang “gila” seperti saya.
Dialog itu saya kutip dari sebuah film tentang Christopher Colombus, yang saya tonton beberapa tahun silam. Tapi, dialog itu sungguh berkesan. “Gila”…. itu keyword-nya. Tapi “gila” dalam tanda petik. “Gila” dalam konotasi positif.
Saya setuju dengan pendapat Colombus bahwa peradaban yang menjulang sekarang ini bisa terwujud berkat manusia-manusia “gila” yang konsis dengan “kegilaannya”: “gila” kerja, “gila” ilmu, “gila” meneliti, “gila” berpikir untuk masa depan, dan “gila macam-macam (pokoknya positif).
Teori tentang matahari sebagai pusat tata surya, misalnya, bisa diakui berkat “kegilaan” Copernicus. Sekarang ini bisa ada pesawat terbang, juga karena “kegilaan” Wright bersaudara yang terobsesi untuk bisa terbang seperti burung. Dan sebagainya.
Bahkan, dalam konteks dan terminologi spiritual, Muhammad pernah dianggap “majnun” (baca: “gila”–lagi-lagi dalam tanda kutip) oleh para seterunya. Sekali lagi, “majnun” itu pun dalam konteks positif karena beliau dianggap tidak mau berkompromi dengan misi suci-nya.
Jadi, dalam konteks ini “gila” atau tidaknya kita sangat tergantung pada seberapa sinis orang menilai kegigigan kita untuk membina sesuatu yang bermakna bagi peradaban, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat hingga umat manusia.
Nah, sekarang pertanyaannya, “sudah seberapa “gila” kita, saya, anda, kalian, kamu…………….?”
“Hai, Bung (begitu kira-kira jika diindonesiakan), tengoklah peradaban di luar jendela sana. Semua itu bisa terwujud karena ada orang-orang “gila” seperti saya.
Dialog itu saya kutip dari sebuah film tentang Christopher Colombus, yang saya tonton beberapa tahun silam. Tapi, dialog itu sungguh berkesan. “Gila”…. itu keyword-nya. Tapi “gila” dalam tanda petik. “Gila” dalam konotasi positif.
Saya setuju dengan pendapat Colombus bahwa peradaban yang menjulang sekarang ini bisa terwujud berkat manusia-manusia “gila” yang konsis dengan “kegilaannya”: “gila” kerja, “gila” ilmu, “gila” meneliti, “gila” berpikir untuk masa depan, dan “gila macam-macam (pokoknya positif).
Teori tentang matahari sebagai pusat tata surya, misalnya, bisa diakui berkat “kegilaan” Copernicus. Sekarang ini bisa ada pesawat terbang, juga karena “kegilaan” Wright bersaudara yang terobsesi untuk bisa terbang seperti burung. Dan sebagainya.
Bahkan, dalam konteks dan terminologi spiritual, Muhammad pernah dianggap “majnun” (baca: “gila”–lagi-lagi dalam tanda kutip) oleh para seterunya. Sekali lagi, “majnun” itu pun dalam konteks positif karena beliau dianggap tidak mau berkompromi dengan misi suci-nya.
Jadi, dalam konteks ini “gila” atau tidaknya kita sangat tergantung pada seberapa sinis orang menilai kegigigan kita untuk membina sesuatu yang bermakna bagi peradaban, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat hingga umat manusia.
Nah, sekarang pertanyaannya, “sudah seberapa “gila” kita, saya, anda, kalian, kamu…………….?”
Thursday, March 26, 2009
Orang Beragama Lebih Tenang Hadapi Stres
Penelitian menunjukkan, otak orang yang beragama berbeda dengan yang tidak. Otak orang yang relijius jauh lebih tenang
Hidayatullah. com—Otak orang-orang yang relijius terbukti lebih tenang bila menghadapi situasi yang tidak pasti dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah saat mengalami kesalahan ketimbang orang-orang yang tidak mempercayai agama. Ini kesimpulan sebuah studi di Kanada yang mempelajari hubungan antara penganut agama dan aktivitas otak.
"Orang-orang relijius atau mereka yang percaya pada Tuhan terbukti memiliki tingkat stres atau kecemasan yang lebih rendah setelah melakukan kesalahan," ujar Michael Inzlicht, profesor psikologi University of Toronto.
Studi ini melibatkan kelompok kecil orang-orang yang percaya pada Tuhan dan tidak percaya dari berbagai latar belakang agama, termasuk umat Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.
Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner agama tentang keyakinan mereka terhadap Tuhan dan tingkat keimanan mereka. Lalu, mereka diminta untuk mengerjakan tugas Stroop, sebuah tes psikologi yang mengukur waktu reaksi selama menjalankan berbagai tugas seperti mengenali warna dengan cepat.
Pada tubuh setiap responden dipasang elektroda yang mengukur aktivitas di wilayah otak yang disebut anterior cingulate cortex (ACC). ACC berfungsi untuk mengendalikan emosi dan membantu orang untuk memodifikasi perilaku saat mengalami sebuah kejadian yang memicu kecemasan seperti saat melakukan kesalahan.
"Bagian ini akan terganggu saat Anda melakukan kesalahan atau dihadapkan pada situasi dimana Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan," jelas Inzlicht.
Penelitian menunjukkan aktivitas ACC pada orang yang relijius lebih rendah bila dibandingkan pada mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu cemas saat melakukan kesalahan selama tes.
Semakin kuat tingkat keimanan dan keyakinan pada Tuhan, semakin rendah aktivitas ACC sebagai respons atas kesalahan yang mereka lakukan sendiri.
Ini menunjukkan adanya korelasi antara keyakinan agama dan aktivitas otak. Namun begitu, para ahli masih belum mengetahui alasan yang tepat. Sekalipun peneliti menduga bahwa orang-orang yang relijius memiliki tujuan yang lebih besar ketimbang diri mereka sendiri khususnya kehidupan setelah kematian.
Hidayatullah. com—Otak orang-orang yang relijius terbukti lebih tenang bila menghadapi situasi yang tidak pasti dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah saat mengalami kesalahan ketimbang orang-orang yang tidak mempercayai agama. Ini kesimpulan sebuah studi di Kanada yang mempelajari hubungan antara penganut agama dan aktivitas otak.
"Orang-orang relijius atau mereka yang percaya pada Tuhan terbukti memiliki tingkat stres atau kecemasan yang lebih rendah setelah melakukan kesalahan," ujar Michael Inzlicht, profesor psikologi University of Toronto.
Studi ini melibatkan kelompok kecil orang-orang yang percaya pada Tuhan dan tidak percaya dari berbagai latar belakang agama, termasuk umat Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.
Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner agama tentang keyakinan mereka terhadap Tuhan dan tingkat keimanan mereka. Lalu, mereka diminta untuk mengerjakan tugas Stroop, sebuah tes psikologi yang mengukur waktu reaksi selama menjalankan berbagai tugas seperti mengenali warna dengan cepat.
Pada tubuh setiap responden dipasang elektroda yang mengukur aktivitas di wilayah otak yang disebut anterior cingulate cortex (ACC). ACC berfungsi untuk mengendalikan emosi dan membantu orang untuk memodifikasi perilaku saat mengalami sebuah kejadian yang memicu kecemasan seperti saat melakukan kesalahan.
"Bagian ini akan terganggu saat Anda melakukan kesalahan atau dihadapkan pada situasi dimana Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan," jelas Inzlicht.
Penelitian menunjukkan aktivitas ACC pada orang yang relijius lebih rendah bila dibandingkan pada mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu cemas saat melakukan kesalahan selama tes.
Semakin kuat tingkat keimanan dan keyakinan pada Tuhan, semakin rendah aktivitas ACC sebagai respons atas kesalahan yang mereka lakukan sendiri.
Ini menunjukkan adanya korelasi antara keyakinan agama dan aktivitas otak. Namun begitu, para ahli masih belum mengetahui alasan yang tepat. Sekalipun peneliti menduga bahwa orang-orang yang relijius memiliki tujuan yang lebih besar ketimbang diri mereka sendiri khususnya kehidupan setelah kematian.
Monday, March 23, 2009
Sahabat ...
kau pernah tawarkan musim hujan
yang menyejukkan jiwa
membasuh kemarau hati
menepis debu nurani
Tapi aku pilih musim semi
Yang penuh mimpi dan angan semu
kau pernah tawarkan matahari
yang menghangatkan luka
membakar buram kenangan silam
tapi aku pilih rembulan
yang sarat dengan puisi romantisme
Dan sekarang aku Tahu...
kau benar.
di sini, di putaran waktu
aku terengah-engah ditindih pilihan
tapi hidup terus berjalan
Tanpa peduli sesalku
Tanpa peduli dirimu.
Yang pernah menawarkan Musim hujan
dan matahari
Tapi Aku pilih musim semi
dan rembulan
yang menyejukkan jiwa
membasuh kemarau hati
menepis debu nurani
Tapi aku pilih musim semi
Yang penuh mimpi dan angan semu
kau pernah tawarkan matahari
yang menghangatkan luka
membakar buram kenangan silam
tapi aku pilih rembulan
yang sarat dengan puisi romantisme
Dan sekarang aku Tahu...
kau benar.
di sini, di putaran waktu
aku terengah-engah ditindih pilihan
tapi hidup terus berjalan
Tanpa peduli sesalku
Tanpa peduli dirimu.
Yang pernah menawarkan Musim hujan
dan matahari
Tapi Aku pilih musim semi
dan rembulan
Sunday, March 1, 2009
salma
Kabut Sunyi Mulai Merayap Di Hati
Bayangmu Semakin Sulit Kucari
Aku Tak Tau Harus Berbuat Apa
Angin Dan Burung-Burung Pun Membisu
Ketika Kutanya Tentangmu, Tentang Getaran Hatimu
Tentang Apa Saja Yang Bertalian Dengan Jiwamu... Ooo...
Bayangmu Semakin Sulit Kucari
Aku Tak Tau Harus Berbuat Apa
Angin Dan Burung-Burung Pun Membisu
Ketika Kutanya Tentangmu, Tentang Getaran Hatimu
Tentang Apa Saja Yang Bertalian Dengan Jiwamu... Ooo...
Tuesday, February 24, 2009
Cukup Itu Berapa?
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya
ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun tanpa sempat berkata cukup.
ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun tanpa sempat berkata cukup.
Wednesday, February 18, 2009
MY MOM ONLY HAD ONE EYES
Aku benci ibuku,dia penyebab aku jadi malu..Dia bekerja sbg tukang masak utk para murid dan guru di sekolah,sebagai penumpu kehidupan keluarga. Pernah suatu kali saat aku masih di bangku sekolah SD dia datang ke sekolah dan mengatakan HALLO pada aku, aku sangat malu sekali, kenapa dia lakukan ini padaku, aku tak hiraukan dia dan aku tampakan muka kebencianku padanya dan aku langsung lari pergi. Ke esokan harinya teman kelasku mengejekku “ EEE ibumu punya mata satu….” Rasanya aku mau sembunyi saja, aku mau ibuku mati saja, lalu kutanyakan padanya hari itu juga, “” Ibu hanya bikin aku jadi bahan tertawaan aja, kenapa kau tak mati saja?!!, Ibuku tidak menjawab!!, bahkan aku tak peduli apa yang telah aku lakukan dan ucapkan, aku sangat marah sekali, aku pun tidak peduli apa perasaannya, rasanya aku mau lari dari rumah. Lalu aku belajar mati2an sehingga aku dapat beasiswa sekolah ke singapure, kemudian aku menikah, aku punya rumah sendiri, aku punya anak dan aku bahagia dengan kehidupanku.
Sampai suatu waktu, ibuku datang ketempatku karena dia rindu sudah bertahun2 tidak jumpa denganku dan juga dia belum pernah melihat cucunya. Saat dia berdiri di depan pintu, anak2ku tertawa melihatnya. Aku berteriak “ Berani2nya kau datang kerumahku dan bikin anak2ku jadi ketakutan!” PERGI SANA!!!,SEKARANG JUGA”. Begitupun Ibuku menjawab pelan “ oohh maaf saya salah alamat, dan kemudian dia pun menghilang dari pandanganku.
Lama kemudian, datang surat dari sekolahkudulu bahwa akan diadakan reuni, lalu aku bilang pada suamiku bahwa aku ada kungjungan kerja….setelah reuni, ada rasa ingin melihat rumah gubukku dulu,…tetanggaku menyampaikan bahwa dia “ibuku” telah meniggal dunia,tak ada setetes pun ait mata dariku,mereka beri aku surat darinya……..
“”” Anakku tersayang, ibu selalu merindukanmu, maafkan ibu saat datang ke SINGAPORE” dan juga telah menakutkan anak2mu. Ibu senang dengar kabar kau mau datang pada acara reuni,tapi ibu tidak mampu bangun dari tmpt tidur untuk melihatmu. Ibu juga mohon maaf karena selalu bikin kamu malu……untuk kau ketahui anakku saying,sewaktu kau masih kecil, kau terkena suatu kecelakaan sehingga kau kehilangan salah satu matamu nak, sebagai seorang ibu, ibu tidak bisa melihat kau begitu saja besar dengan mata sebelah…maka …kuberi kan yang kumiliki….ibu bangga sekali anakku telah melihat seluruh dunia dengan mata itu……Dari yang selalu menyayangimu…IBUMU”.
Umar bin Khatab meriwayatkan:
Pernah suatu kali kami melihat ibu2 di desa dan kami melihat
Betapa ibu2 itu mengambil bayi2nya serta memeluk dgn erat
Serta menyusui bayi2nya. Nabipun bertanya pada kami.”Apakah
Mungkin ibu itu akan membiarkan anaknya masuk neraka?” dan kami menjawab tentu tidak, apalagi bila ia mempunyai pilihan”Kemudian Nabipun berkata lagi,” ALLAH lebih saying lagi kepada hamba2nya melebihi sayangnya ibu itu pd bayinya”
Maha Besar ALLAH dengan segala firmannya pada surah AL Baqorah ayat 28 : Kenapa Kamu ingkar pada ALLAH yang dahulunya kamu tidak ada lalu ALLAH hadirkan kamu dan nantipun kamu kembali
P A D A - N Y A?
Sampai suatu waktu, ibuku datang ketempatku karena dia rindu sudah bertahun2 tidak jumpa denganku dan juga dia belum pernah melihat cucunya. Saat dia berdiri di depan pintu, anak2ku tertawa melihatnya. Aku berteriak “ Berani2nya kau datang kerumahku dan bikin anak2ku jadi ketakutan!” PERGI SANA!!!,SEKARANG JUGA”. Begitupun Ibuku menjawab pelan “ oohh maaf saya salah alamat, dan kemudian dia pun menghilang dari pandanganku.
Lama kemudian, datang surat dari sekolahkudulu bahwa akan diadakan reuni, lalu aku bilang pada suamiku bahwa aku ada kungjungan kerja….setelah reuni, ada rasa ingin melihat rumah gubukku dulu,…tetanggaku menyampaikan bahwa dia “ibuku” telah meniggal dunia,tak ada setetes pun ait mata dariku,mereka beri aku surat darinya……..
“”” Anakku tersayang, ibu selalu merindukanmu, maafkan ibu saat datang ke SINGAPORE” dan juga telah menakutkan anak2mu. Ibu senang dengar kabar kau mau datang pada acara reuni,tapi ibu tidak mampu bangun dari tmpt tidur untuk melihatmu. Ibu juga mohon maaf karena selalu bikin kamu malu……untuk kau ketahui anakku saying,sewaktu kau masih kecil, kau terkena suatu kecelakaan sehingga kau kehilangan salah satu matamu nak, sebagai seorang ibu, ibu tidak bisa melihat kau begitu saja besar dengan mata sebelah…maka …kuberi kan yang kumiliki….ibu bangga sekali anakku telah melihat seluruh dunia dengan mata itu……Dari yang selalu menyayangimu…IBUMU”.
Umar bin Khatab meriwayatkan:
Pernah suatu kali kami melihat ibu2 di desa dan kami melihat
Betapa ibu2 itu mengambil bayi2nya serta memeluk dgn erat
Serta menyusui bayi2nya. Nabipun bertanya pada kami.”Apakah
Mungkin ibu itu akan membiarkan anaknya masuk neraka?” dan kami menjawab tentu tidak, apalagi bila ia mempunyai pilihan”Kemudian Nabipun berkata lagi,” ALLAH lebih saying lagi kepada hamba2nya melebihi sayangnya ibu itu pd bayinya”
Maha Besar ALLAH dengan segala firmannya pada surah AL Baqorah ayat 28 : Kenapa Kamu ingkar pada ALLAH yang dahulunya kamu tidak ada lalu ALLAH hadirkan kamu dan nantipun kamu kembali
P A D A - N Y A?
Subscribe to:
Posts (Atom)
